Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:17 WIB
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino.  (Pexels/Ruyat Supriazi)
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino. (Pexels/Ruyat Supriazi)

Ketiga, meningkatkan retensi air. Sekat kanal menciptakan cadangan air yang penting selama musim kemarau sehingga laju kehilangan air dapat diperlambat.

Baca Juga: Musim Kemarau Datang, Kalimantan Barat Kembali Diuji Ancaman Karhutla

Meski efektif secara hidrologi, tantangan masih muncul dari sisi material.

Sekat kanal berbahan kayu cerucuk umumnya hanya bertahan dua hingga tiga tahun sebelum mengalami pelapukan dan berisiko jebol saat debit air meningkat.

Sebagai alternatif, mulai diuji penggunaan sekat semi permanen berbasis pipa PVC yang diperkuat beton dan besi tulangan di wilayah rawan seperti Desa Limbung, Kubu Raya.

Model ini dinilai lebih kedap, minim kebocoran, dan lebih siap menghadapi siklus kemarau jangka panjang.

Taruhan Besar Swasembada

Menghadapi tekanan iklim yang meningkat, pemerintah memperbesar anggaran ketahanan pangan nasional menjadi Rp210,4 triliun atau naik sekitar 31,7 persen.

Strateginya dibagi ke dalam dua pendekatan utama.

Pertama, intervensi teknologi cuaca dan infrastruktur fisik.

BNPB bersama TNI dan Polri mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui penyemaian garam untuk memicu hujan buatan, terutama di wilayah gambut Kalimantan dan Sumatra guna menjaga kelembapan sebelum memasuki periode terkering.

Di sektor pertanian, program pompanisasi dan optimasi lahan dipercepat untuk menjaga produktivitas sawah.

Kedua, transformasi sistem agraris.

Sebagian besar anggaran diarahkan untuk menopang produksi melalui subsidi pupuk, pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan), peningkatan produksi padi dan jagung, serta pengembangan varietas benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Krisis iklim 2026 memperlihatkan satu hal yang semakin sulit dibantah: model pertanian konvensional tidak lagi sepenuhnya mampu beradaptasi dengan dinamika iklim baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X