PONTIANAKGLOBE:COM; PONTIANAK -- Langkah kaki terasa berat saat menapak permukaan gambut yang mulai membal dan mengering di pinggiran Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pertengahan Juni 2026.
Di bawah terik matahari yang menyengat, aroma khas gambut yang terpanggang mulai tercium—menjadi alarm alam yang sudah sangat dipahami masyarakat setempat.
Baca Juga: Krisis Lingkungan Kian Kompleks, BRIN Minta Perbaikan Tata Kelola Sumber Daya Alam
Seorang petani di Rasau Jaya, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Sutomo, mengolah lahan untuk menanam jagung.
Ia mengatakan jika kemarau panjang seperti biasanya, ia khawatir api bisa membakar lahan pertaniannya.
Berdasarkan pengalamannya, api di lahan gambut sangata sulit dipadamkan.
Musim kemarau yang datang lebih awal, ditambah indikator oseanografi global yang menunjukkan potensi menguatnya kembali fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir 2026, membuat Kalimantan Barat berada di garis depan menghadapi ancaman krisis iklim nasional.
Bagi Kalimantan Barat, ancaman tersebut bukan lagi sekadar proyeksi.
Data organisasi lingkungan menunjukkan kemunculan titik panas (hotspot) cukup signifikan sejak awal tahun, dipicu kondisi gambut yang terus mengalami pengeringan akibat kanalisasi selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim
Saat kubah gambut di wilayah kritis seperti Kubu Raya, Ketapang, Mempawah, hingga Sambas kehilangan kelembapan karena curah hujan yang berada di bawah normal, kawasan ini berubah menjadi hamparan bahan bakar alami yang rentan memicu kebakaran lahan dan menghasilkan kabut asap pekat PM2.5.
Namun ancaman tersebut tidak berhenti pada kebakaran.
Di wilayah pesisir seperti Sambas dan kawasan sekitar Pontianak, menurunnya debit sungai selama fase kemarau meningkatkan risiko intrusi air laut.
Air asin yang masuk jauh ke daratan tidak hanya mengganggu sumber air baku masyarakat, tetapi juga mulai memengaruhi produktivitas lahan pertanian pasang surut.
Petani menghadapi ancaman gagal panen akibat meningkatnya kadar salinitas tanah yang merusak pertumbuhan tanaman.
Artikel Terkait
Keren, SMP di Kubu Raya Kini Punya Kurikulum Gambut dan Mangrove
Kopi Liberika, Khas Kalimantan Barat Yang Tumbuh Subur di Lahan Gambut
Kopi Gambut Sendoyan Sambas, Siap Bersaing Dengan Arabika dan Robusta
Sukses Taklukkan Lahan Gambut Dengan Komoditi Tanam Tumpangsari Melon Dan Cabe
Kapolri Ungkap Permintaan Petani ke Prabowo, Mulai dari KUR hingga Bantuan Alsintan
Guru Besar Untan: Jika PKS Rugikan Petani, Izin Operasional Harus Dicabut