Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:17 WIB
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino.  (Pexels/Ruyat Supriazi)
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino. (Pexels/Ruyat Supriazi)

PONTIANAKGLOBE:COM; PONTIANAK -- Langkah kaki terasa berat saat menapak permukaan gambut yang mulai membal dan mengering di pinggiran Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pertengahan Juni 2026.

Di bawah terik matahari yang menyengat, aroma khas gambut yang terpanggang mulai tercium—menjadi alarm alam yang sudah sangat dipahami masyarakat setempat.

Baca Juga: Krisis Lingkungan Kian Kompleks, BRIN Minta Perbaikan Tata Kelola Sumber Daya Alam

Seorang petani di Rasau Jaya, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Sutomo, mengolah lahan untuk menanam jagung. 

Ia mengatakan jika kemarau panjang seperti biasanya, ia khawatir api bisa membakar lahan pertaniannya. 

Berdasarkan pengalamannya, api di lahan gambut sangata sulit dipadamkan.  

Musim kemarau yang datang lebih awal, ditambah indikator oseanografi global yang menunjukkan potensi menguatnya kembali fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir 2026, membuat Kalimantan Barat berada di garis depan menghadapi ancaman krisis iklim nasional.

Bagi Kalimantan Barat, ancaman tersebut bukan lagi sekadar proyeksi.

Data organisasi lingkungan menunjukkan kemunculan titik panas (hotspot) cukup signifikan sejak awal tahun, dipicu kondisi gambut yang terus mengalami pengeringan akibat kanalisasi selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim

Saat kubah gambut di wilayah kritis seperti Kubu Raya, Ketapang, Mempawah, hingga Sambas kehilangan kelembapan karena curah hujan yang berada di bawah normal, kawasan ini berubah menjadi hamparan bahan bakar alami yang rentan memicu kebakaran lahan dan menghasilkan kabut asap pekat PM2.5.

Namun ancaman tersebut tidak berhenti pada kebakaran.

Di wilayah pesisir seperti Sambas dan kawasan sekitar Pontianak, menurunnya debit sungai selama fase kemarau meningkatkan risiko intrusi air laut.

Air asin yang masuk jauh ke daratan tidak hanya mengganggu sumber air baku masyarakat, tetapi juga mulai memengaruhi produktivitas lahan pertanian pasang surut.

Petani menghadapi ancaman gagal panen akibat meningkatnya kadar salinitas tanah yang merusak pertumbuhan tanaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X