Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:17 WIB
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino.  (Pexels/Ruyat Supriazi)
Foto ilustrasi, seorang petani di Jawa Tengah mengolah lahan di tengah ancaman el nino. (Pexels/Ruyat Supriazi)

Dari Gambut Borneo ke Lumbung Pangan Nasional

Jika Kalimantan Barat menjadi wajah paling nyata dari ancaman karhutla dan gangguan hidrologi pesisir, peta risiko iklim menunjukkan pola pengeringan serupa mulai membentuk efek domino terhadap ketahanan pangan nasional.

Pulau Jawa yang selama ini menjadi tulang punggung produksi padi nasional diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Baca Juga: Riset 20 Tahun Ungkap Ketangguhan Terumbu Karang Indonesia, Namun Ancaman Pemanasan Laut Kian Nyata

Kemarau tahun ini diproyeksikan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.

Koridor pertanian di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur berpotensi mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, memaksa petani menyesuaikan pola tanam untuk menghindari risiko puso secara massal.

Tantangan lebih berat membayangi wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Karakteristik tanah yang cepat kehilangan kelembapan mempercepat terjadinya defisit air permukaan. Sejumlah wilayah bahkan telah memasuki fase kering sejak pertengahan tahun.

Akibatnya, tanaman pangan lokal mulai menunjukkan gejala stres air sebelum memasuki masa produktif, memunculkan risiko kerawanan pangan di tingkat rumah tangga jika tidak segera diantisipasi.

Sementara itu, Sumatra Selatan, Lampung, dan Kalimantan Selatan diprediksi akan menyusul memasuki fase kering kritis pada September 2026.

Di tengah ancaman suhu ekstrem dan kemarau berkepanjangan, pertarungan menjaga kelembapan lahan gambut sangat bergantung pada efektivitas sekat kanal (canal blocking).

Infrastruktur ini dirancang untuk menghentikan fungsi drainase kanal yang selama puluhan tahun mempercepat pengeringan kubah gambut.

Secara teknis, efektivitas sekat kanal ditentukan oleh tiga indikator utama:

Pertama, menjaga tinggi muka air tanah (TMAT). Sistem ini dirancang agar muka air tidak turun lebih dari 40 sentimeter di bawah permukaan tanah. Ketika ambang tersebut terlampaui, gambut kehilangan kelembapan dan menjadi sangat mudah terbakar.

Kedua, memperluas radius pembasahan. Kanal yang mampu mempertahankan elevasi air terbukti dapat menyebarkan kelembapan ke area kanan dan kiri saluran, meski efektivitasnya menurun pada kawasan dengan tutupan vegetasi yang telah rusak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X