Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Rabu, 10 Juni 2026 | 20:51 WIB
Seorang nelayan mempersiapkan perlengkapan melaut di perahu tradisional yang berwarna cerah di perairan Indonesia yang tenang. (Pexels @Muhammad Bahauddin)
Seorang nelayan mempersiapkan perlengkapan melaut di perahu tradisional yang berwarna cerah di perairan Indonesia yang tenang. (Pexels @Muhammad Bahauddin)

PONTIANAKGLOBE:COM; PONTIANAK -- Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga laut sebagai sumber pangan dan penghidupan jutaan masyarakat pesisir.

Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, sektor perikanan menghadapi tantangan besar yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan.

Baca Juga: Strategi Investasi Taktis Saat Dolar Terus Menguat dan IHSG Terjun Bebas: Amankan Aset atau Belanja Portofolio?

Muhammad Hanif Azhar, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR), mengatakan perubahan iklim telah memberikan tekanan serius terhadap sektor perikanan tangkap.

Menurutnya, terganggunya ekosistem laut menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan terus menurun. Dampak tersebut dirasakan langsung oleh nelayan, terutama nelayan tradisional yang harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang memadai.

"Tantangan yang dihadapi sektor perikanan tangkap di tengah perubahan iklim adalah terganggunya ekosistem yang menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan mengalami penurunan," katanya seperti dikutip dari unairnews.ac.id.

Baca Juga: Berburu Keringat di Bawah Lampu Kota: Sisi Finansial di Balik Tren Night Run Anak Muda Pontianak

Jarak melaut yang semakin jauh membuat biaya operasional nelayan meningkat.

Di sisi lain, perubahan iklim juga memicu pemutihan terumbu karang dan pengasaman air laut yang berdampak terhadap keberlangsungan berbagai spesies laut.

Hanif menjelaskan bahwa tidak semua organisme laut mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi.

Baca Juga: Investasi Terbaik Bukan di Pasar Modal: Mengapa Kuliah Jarak Jauh Adalah Pilihan Finansial Paling Logis Saat Ini

Akibatnya, sejumlah spesies mengalami penurunan populasi bahkan kematian, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas sektor perikanan.

Kerusakan ekosistem pesisir juga menjadi ancaman tersendiri.

Kawasan mangrove dan habitat pesisir yang rusak dapat mengurangi kemampuan alam dalam mendukung kehidupan berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.

"Upaya perbaikan lingkungan seperti rehabilitasi mangrove dan kawasan pesisir menjadi sangat penting," ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Sumber: unairnews.ac.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB

Guru di Bojonegoro Lari ke Sekolah Demi Hemat BBM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:13 WIB
X