Budidaya Jadi Alternatif
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Hanif menilai akuakultur atau budidaya perikanan dapat menjadi salah satu jawaban untuk menjaga ketersediaan pangan di masa depan.
Berbeda dengan perikanan tangkap yang sangat bergantung pada kondisi alam, sistem budidaya memungkinkan pengelolaan kualitas lingkungan, kesehatan ikan, dan produktivitas secara lebih terukur.
"Akuakultur menjadi salah satu solusi terbaik karena kualitas lingkungan budidaya dapat dipantau dan dikelola dengan baik sehingga produksi lebih terukur dan berkelanjutan," katanya.
Ia menyebut sejumlah komoditas yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan, mulai dari rumput laut dan kerang di perairan laut, bandeng, kakap, serta udang vaname di kawasan air payau, hingga lele, gurame, dan nila di perairan tawar.
Meski demikian, pengembangan sektor budidaya masih menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek teknis, sosial, maupun ekonomi. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mendorong pertumbuhan akuakultur yang berkelanjutan.
Bagi daerah pesisir seperti Kalimantan Barat yang memiliki garis pantai panjang dan sumber daya perairan yang melimpah, pengembangan akuakultur dapat menjadi salah satu peluang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menutup pernyataannya, Hanif mengajak generasi muda untuk lebih bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam.
"Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana tanpa melakukan eksploitasi berlebihan," katanya. ***
Artikel Terkait
Deklarasi Gerakan Zero Bullying, Bagian dari Upaya Preventif Tanggulangi Kasus - Kasus Bullying di Lingkungan Pendidikan
Peluncuran KTP Pohon di Bandung, Langkah Cepat Atasi Kerentanan Lingkungan
Misteri Kayu Gelondongan di Tapanuli: Menteri Lingkungan Hidup Ungkap Temuan Awal
Pegiat Lingkungan Ungkap Fakta Longsor Cisarua: Petani Bukan Penyebab, Krisis Iklim Jadi Pemicu
Detik-detik Tembok Pembatas Rumah Mewah Ambruk ke Lingkungan Sekolah
Kampung Caping Pontianak, Saat Budaya Melayu dan Kepedulian Lingkungan Bertemu