PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tengah dinamika sosial dan hukum di Kalimantan Barat, nama Bruder Stephanus Paiman OFM Cap, kerap berdiri di baris terdepan sebagai jangkar bagi mereka yang kehilangan suara.
Biarawan Katolik dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFM Cap) ini telah lama mendobrak dinding-dinding kaku institusi keagamaan untuk menghidupi imannya langsung di aspal jalanan, ruang sidang yang pengap, hingga di balik kemudi mobil ambulans.
Melalui wadah Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak yang ia dirikan, Bruder Stephanus membangun sebuah ekosistem solidaritas yang sangat membumi.
Bagi masyarakat miskin kota maupun warga di pelosok pedalaman Kalimantan Barat, kehadiran gerakan relawan ini sering kali menjadi jawaban terakhir di saat-saat kritis.
Ketika sebuah keluarga tak mampu mendadak menghadapi situasi darurat seperti anggota keluarga yang sakit keras atau meninggal dunia, birokrasi yang rumit sering kali menjadi tembok penghalang.
Namun, lewat satu sambungan telepon langsung ke Bruder Stephanus, bantuan nyata berupa armada ambulans hampir selalu datang tanpa pakai lama.
Jika kondisi fisiknya sedang bugar dan tidak terikat agenda mendesak, pria ramah berwajah tegas ini tidak ragu untuk turun langsung memegang kemudi mobil demi menjemput warga yang sedang kesusahan.
Saat keterbatasan waktu menghalanginya, tugas mulia tersebut dialihkan kepada tangan kanannya yang tepercaya, Bang Ali.
Dedikasi tanpa pamrih dari sang sopir ambulans yang beragama Islam ini tidak hanya sekadar cerita tentang pelayanan, melainkan potret hidup bagaimana toleransi dipraktikkan tanpa sekat di bumi borneo.
Sebagai wujud penghargaan mendalam atas kesetiaan melayani sesama, Bruder Stephanus bahkan telah memberangkatkan Bang Ali ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah umrah.
Kiprah kemanusiaan yang inklusif ini berjalan selaras dengan keberaniannya dalam mengadvokasi keadilan hukum di Kalimantan Barat.
Di kalangan aparat penegak hukum, ia dikenal sebagai pengkritik yang sangat vokal terhadap praktik kriminalisasi buruh, lambatnya penanganan kasus rakyat kecil, hingga jaringan tindak pidana perdagangan orang.
Karakter paling menonjol dari sang biarawan adalah kerelaannya untuk pasang badan secara fisik, bahkan menawarkan dirinya sendiri sebagai jaminan penangguhan penahanan agar para pekerja kecil bisa kembali ke pelukan keluarga mereka.
Baca Juga: Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap Ditahbisan Jadi Uskup: Hujan Berkat di Keuskupan Banjarmasin
Di sisi lain, figur eksentrik yang gemar mengendarai Vespa kuno bersama komunitasnya ini juga aktif merangkul anak-anak muda lintas iman mulai dari pemuda Muslim, Dayak, Tionghoa, hingga Melayu untuk bergotong-royong dalam aksi sosial dan kampanye lingkungan hidup.
Apa yang dilakukan oleh Bruder Stephanus Paiman memberikan sebuah catatan penting bagi publik bahwa esensi tertinggi dari sebuah nilai kemanusiaan adalah kesiapan untuk mengulurkan tangan lebar-lebar secara tulus kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja tanpa pernah memandang perbedaan latar belakang keyakinan. ***
Artikel Terkait
Profil Singkat Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap: Langkah Pasti Menuju Seminari Tinggi di Sumatera Utara
Profil Singkat Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap: Tugas dan Tanggungjawab Besar dalam Ordo Kapusin
Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo Tahbiskan Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap Jadi Uskup Banjarmasin
RIP...Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFM Cap Berpulang, Begini Profil Singkat dan Karya Misioner-nya
Resmi! Paus Leo XIV Tunjuk Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap Jadi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Terima Pengunduran Mgr Agustinus Agus
Profil Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, dari Pastor Paroki hingga Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak