PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Secara sederhana, ternyata praktek restorasi gambut yang merupakan upaya pemulihan ekosistem gambut terdegradasi agar kondisi hidrologis, struktur, dan fungsi kawasan berada pada kondisi pulih, sudah dilakukan di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya.
Praktek sederhana restorasi gambut ala Suryanto, 48 tahun, dengan membudidayakan tanaman buah melon, Cucumis melo L, yang merupakan tanaman yang terkategori labu-labuan atau Cucurbitaceas.
Baca Juga: Menggiurkan 200 Kilogram Per Bulan Panen Madu Meli Flora Sunar Bisa Hasilkan Rp30 Juta
Digemari banyak orang dengan cara dimakan segar karena tekstur daging buahnya lunak, berwarna putih dan kemerahan tergantung kultivarnya.
Tanaman melon akan tumbuh secara optimum pada suhu 25 – 30 derajat Celcius dengan curah hujan antara 1500 – 2500 mm per tahun.
Praktek sederhana Suryanto ini rupanya sudah berjalan 4 tahun.
Di atas lahan semula 1 hektar, kemudian meningkat menjadi lebih 4 hektar, dan mempekerjakan 4 tenaga kerja.
Baca Juga: Melalui New PLUT Solusi bagi Peningkatan Kapasitas Pelaku Usaha Mikro
Yang unik dari cara kerja Suryanto, proses penanaman bibit Melon Alisha, Melon Madesta, Melon Merlin dan jenis Melon Alina ini, ditumpangsarikan dengan tanaman Cabe Orion Rawit Dompolan, ini dilakukan malam hari.
Aktivitas siang yang dilakukan diantaranya persiapan lahan, pemberian pupuk dasar, pemasangan plastik mulsa, persiapan bibit dan persiapan ajir.
Baca Juga: Bertekad Bantu UMKM Naik Kelas, Promedia dan Kemenkop Kolaborasi Bangun Megaportal PLUT-KUMKM
Sedangkan proses penanaman bibit dilakukan malam hari. Saat orang tertidur pulas malam hari, Suryanto justru bekerja menanam melon.
“Penanaman malam hari dilakukan untuk menghindari gangguan hama dan penyakit serta sengatan matahari tropis yang cenderung ekstrim walau pagi hari,”ujar Suryanto, ditemui saat kegiatan pemanenan, Senin 2 Oktober 2023 di Rasau Jaya.
Selanjutnya kegiatan yang dilakukan siang hari lainnya yaitu pemeliharaan tanaman dan pengairan.
Sukses tumpang sari melon dengan cabe terletak pada penguasaan pH air, Ph tanah gambut dan aspek budidaya tanaman itu sendiri yang akhirnya memerlukan perhatian khusus dari kita sebagai petaninya.
Artikel Terkait
Angka Vaksinasi PMK Baru 35 Persen, Sekda Kalbar Harisson : Kalbar Tak Bisa Impor Bibit Sapi untuk Diternakkan
Ampelgading Bakal Jadi Sentra Alpukat, Siap Tanam 18.000 Bibit Unggul
Menteri LHK Kongo Arlette Kagum Lihat Persemaian Bibit Pohon di Rumpin Bogor
Kopi Liberika, Khas Kalimantan Barat Yang Tumbuh Subur di Lahan Gambut
5 Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta yang Kamu Harus Tahu. Ini Negara Penghasil Kopi Terbesar di Dunia
Prospek Pasar Kanada Besar, Indonesia Punya Peluang Isi Produk Wafer, Olahan Udang Ikan, Ekstrak Kopi
Tekan Inflasi, Pemkot Pontianak dan Bank Indonesia Bagi 1000 Bibit Sayur Untuk ASN
Kopi Gambut Sendoyan Sambas, Siap Bersaing Dengan Arabika dan Robusta
Keren, Kades Sendoyan Sambas Bicara Kopi dan Lada di Hadapan 951 Mahasiswa Dari 74 Perguruan Tinggi