Ekonomi Global Melambat, Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga

photo author
Wilhelmus Triputra, Pontianak Globe
- Kamis, 9 Juli 2026 | 10:14 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, saat memimpin kegiatan Media Bekabar: Media Bincang Ekonomi Bersama BI Kalbar, Selasa, 30 Juni 2026.  (Wilhelmus Triputra)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, saat memimpin kegiatan Media Bekabar: Media Bincang Ekonomi Bersama BI Kalbar, Selasa, 30 Juni 2026. (Wilhelmus Triputra)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat menyatakan bahwa perekonomian global masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia hingga meningkatnya tekanan inflasi. Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap berada pada jalur yang positif dengan didukung berbagai kebijakan Bank Indonesia dan penguatan sektor digital.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya,
Dalam paparannya, menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi global masih dibayangi perlambatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, termasuk di negara-negara maju. Di sisi lain, harga sejumlah komoditas global seperti nikel dan batu bara justru mengalami kenaikan.

"Inflasi global juga diperkirakan meningkat, terutama dipengaruhi oleh kondisi pasar dan perekonomian negara-negara maju. Selain itu, aliran modal ke negara-negara emerging markets juga mengalami penurunan," ujarnya, saat kegiatan Media Bekabar:
Media Bincang Ekonomi Bersama BI Kalbar, Selasa, 30 Juni 2026.

Di tengah dinamika tersebut, Doni mengatakan kondisi ekonomi domestik Indonesia masih relatif terjaga. Inflasi nasional secara umum tetap terkendali, meski inflasi kelompok volatile food masih berada di kisaran 6 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi nasional. Menurutnya, harga beberapa komoditas pangan strategis saat ini mulai mengalami penurunan, meskipun di sejumlah daerah masih terdapat kenaikan harga akibat faktor distribusi dan pasokan.

Sementara itu, transaksi ekonomi digital terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga saat ini, transaksi digital tumbuh sekitar 28 persen dengan volume mencapai sekitar 5,22 miliar transaksi.
"Pertumbuhan transaksi digital ini menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan efisiensi dan aktivitas ekonomi masyarakat," kata Doni.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebanyak dua kali dengan total kenaikan 100 basis poin sehingga kini berada pada level 5,75 persen.

Doni menjelaskan, kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah preventif untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran.

Selain kebijakan suku bunga, Bank Indonesia juga menjalankan tujuh langkah penguatan stabilitas ekonomi dan ketahanan eksternal. Langkah tersebut meliputi intervensi di pasar valuta asing, penyesuaian suku bunga kebijakan, penguatan instrumen sekuritas rupiah, hingga menjaga kecukupan likuiditas perbankan.

Di sisi lain, BI juga menyiapkan lima langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya melalui peningkatan insentif likuiditas makroprudensial guna mendukung penyaluran kredit kepada sektor produktif.

Dalam bidang transformasi digital, Doni menyebut implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus diperluas, termasuk melalui layanan QRIS Cross Border yang memungkinkan transaksi lintas negara menjadi lebih mudah dan efisien.

"Digitalisasi sistem pembayaran menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan efisiensi transaksi internasional sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi digital Indonesia," jelasnya.

Tak hanya itu, Bank Indonesia juga terus memperkuat kerja sama internasional melalui berbagai kegiatan business matching bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya dilakukan dalam forum internasional di Bangkok dengan mempromosikan berbagai produk unggulan Indonesia, termasuk kopi Liberika.

Meski nilai tukar rupiah masih menghadapi sejumlah tekanan, Doni menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain meningkatnya utang swasta jangka pendek, repatriasi dividen oleh investor asing, serta penurunan kapitalisasi pasar.

Namun demikian, sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih cukup positif. Penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) terus meningkat, kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai sekitar USD51 miliar, sementara nilai transaksi QRIS Cross Border telah menembus sekitar Rp1 triliun.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global," tutup Doni.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wilhelmus Triputra

Tags

Rekomendasi

Terkini

X