PONTIANAKGLOBE -- Kemunculan kopi kemasan jenis liberika sebagai upaya mengembalikan kejaayaan kopi sedang digalakan para petani Kopi Sendoyan, di Kabupaen Sambas, Kalimantan Barat.
Dedy, salah satu pelopor Kopi Sendoyan bersama para petani dan warga di Dusun Batu Layar, Desa Sendoyan sedang gencar-gencarnya mengangkat potensi kopi tersebut.
Tanaman kopi ini tumbuh subur di dataran rendah ada unsur gambutnya. Sehingga di Kalbar sangat cocok dan potensial dikembangkan. Apalagi buah kopinya lebih besar dari arabika dan robusta, namun dalam hal harga dan rasa bersaing dengan biji-biji kopi tersebut.
Saat ini, sejak dimulai 2022 lalu perlahan produk Kopi Sendoyan selalu dipesan mulai dari rekanan hingga masyarakat umum lainnya. Dalam satu siklus produksi dulu di kisaran 2- 3 kilogram dan kini sudah tembus 10 kilogram. Produk Kopi kemasan yang dijual dengan berat 200 gram seharga Rp25.000.
Tanah di daerah sana sangat cocok untuk kopi liberika. Bahkan berdasarkan uji coba kualitas juga sangat baik hal itu dilihat dari densitas kopi sudah di atas 750. Untuk densitas kategori normal 600, artinya kopi liberika Sendoyan sudah di atas normal.
Apalagi didukung dengan tanah yang cocok, kualitas bisa bersaing, luas lahan masih terbuka dan permintaan akan kopi tinggi
Saat ditemui, Dedy sedang mengsangrai biji kopi liberika di atas kuali berukuran 80 cm. Dia menggunakan spatula sepanjang 50 cm untuk menyangrai kopi yang nanti dikemas bermerek Sendoyan.
Tidak lama untuk mensangrai kopi, hanya 1 jam secara manual untuk mendapatkan kematangan biji kopi yang pas dan lezat saat diseduh nanti.
Tak masalah bagi Dedy untuk terus mengaduk biji kopi dengan mengandalakan kayu api tersebut. Sejauh ini mereka meyakini dengan proses tersebut bisa mendapatkan kualitas biji kopi yang bermutu tinggi.
"Tantangannya tangan pegal, tapi tidak apa bersyukur pelan tapi pasti dan sambil belajar. Kopi Sendoyan mulai dikenal dan dibeli olah rekan dan masyarakat umum lainnya," kata Dedy dikutip Pontianak Globe, Minggu (16 Juli 2023).
Dia menjelaskan biji-biji kopi liberika itu dipetik dari lahan seluas 1,5 hektare milik pak Tandi.
Lahan tersebut terus berkembang setelah sempat tidak dilirik sebagai komoditas unggulan. Padahal petani setempat sudah membudidayakan kopi liberika Batu Layar itu sejak 1979 lalu.
Dulu di Dusun Batu Layar ini, kopi liberika berjaya dan menjadi kawasan sentral penghasil kopi di Kabupaten Sambas.
Kopi Batu Layar ketika bersanding dengan komoditas lain seperti karet dan lada yang mampu membiaya hidup masyarakat setempat. Baik membeli perabot rumah tangga, pendidikan dan kendaraan.
"Namun, seiring waktu dan ada tren berpindah ke komoditas lainnya seperti lada yang saat itu harganya sangat menjanjikan, perlahan tanaman kopi mulai ditinggalkan. Belum lagi komoditas sawit yang semakin gencar ditanam oleh petani. Hingga kini tinggal sebagian kecil tanaman kopi yang diusahakan petani atau hanya orang tertentu," kata Dedy.
Artikel Terkait
5 Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta yang Kamu Harus Tahu. Ini Negara Penghasil Kopi Terbesar di Dunia
Prospek Pasar Kanada Besar, Indonesia Punya Peluang Isi Produk Wafer, Olahan Udang Ikan, Ekstrak Kopi
Menikmati Akhir Pekan, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Kunjungi Warung Kopi Klotok. Begini Kata Pemilik Warung