PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di bawah kanopi hutan hujan tropis Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia, yang selama ratusan tahun menjaga keseimbangan alam Borneo, perubahan mulai terasa perlahan.
Udara terasa lebih panas pada siang hari.
Baca Juga: Dari Australia hingga Kalimantan Barat, Dunia Bersiap Hadapi Dampak El Niño
Pola hujan yang selama ini menjadi penanda musim mulai sulit diprediksi.
Sungai yang menjadi nadi kehidupan masyarakat adat mengalami perubahan debit yang semakin tidak menentu.
Perubahan itu mungkin tidak selalu terlihat secara kasat mata, tetapi bagi ekosistem hutan tropis, gangguan kecil yang berlangsung terus-menerus dapat mengubah banyak hal.
Sebagai salah satu kawasan dengan tutupan hutan terbaik di Kalimantan Barat dan rumah bagi berbagai spesies endemik, Kapuas Hulu kini menghadapi tekanan yang tidak hanya datang dari perubahan penggunaan lahan, tetapi juga dari perubahan iklim yang mulai memengaruhi ritme ekologis hutan.
Bagi masyarakat Dayak dan komunitas lokal di sepanjang hulu Sungai Kapuas, hutan bukan sekadar ruang hidup.
Kawasan ini menjadi penentu musim, sumber pangan, obat-obatan, sekaligus penyangga ekonomi keluarga.
Ketika ritme itu berubah, dampaknya tidak berhenti pada pepohonan.
Baca Juga: Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat
Satu di antara gejala yang mulai menjadi perhatian adalah terganggunya siklus berbunga dan berbuah sejumlah pohon hutan tropis.
Fenomena ini penting karena hutan tropis Borneo bergantung pada pola reproduksi musiman yang menjadi fondasi rantai kehidupan satwa liar.
Pohon tengkawang (Shorea stenoptera), salah satu flora identitas Kalimantan Barat yang dikenal sebagai penghasil minyak nabati bernilai ekonomi tinggi, termasuk spesies yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan.
Ketika musim berbunga bergeser atau tidak terjadi secara optimal, dampaknya meluas.
Artikel Terkait
Kabar Gembira, Satu Individu Orangutan Lahir di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat
Kesempatan Beasiswa Peduli Orangutan Kalbar 2025, Cek Syarat dan Jadwalnya!
20 Tahun Dirantai, Orangutan Jojo Kini Hidup Bebas di Enclosure Semi-Liar Ketapang
Tersasar hingga Makan Cempedak Warga, Dua Orangutan Akhirnya Dilepas ke Habitat Asli
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim