Ketika pola berbunga terganggu, hasil panen ikut berubah.
Di sisi lain, masyarakat pedalaman juga menggantungkan sebagian pengetahuan kesehatan tradisional pada tumbuhan obat yang tumbuh alami di lantai hutan.
Baca Juga: Riset 20 Tahun Ungkap Ketangguhan Terumbu Karang Indonesia, Namun Ancaman Pemanasan Laut Kian Nyata
Perubahan kondisi mikro, terutama kelembapan dan suhu tanah, dapat memengaruhi keberadaan sejumlah spesies tumbuhan yang selama ini dimanfaatkan secara turun-temurun.
Para peneliti dan pelaku konservasi menilai pendekatan perlindungan hutan perlu bergerak dari sekadar menjaga tutupan kawasan menuju pengelolaan lanskap yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Salah satu langkah yang mulai banyak didorong adalah memperkuat konektivitas antarblok hutan agar satwa memiliki ruang bergerak yang cukup saat kondisi habitat berubah.
Rehabilitasi kawasan terdegradasi juga mulai diarahkan pada penggunaan spesies lokal yang lebih tahan terhadap tekanan suhu dan perubahan musim.
Di saat yang sama, peran masyarakat adat semakin dipandang penting.
Pengelolaan berbasis komunitas dan perlindungan wilayah adat dinilai menjadi salah satu cara paling efektif menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan ekosistem.
Karena pada akhirnya, menjaga Kapuas Hulu bukan hanya soal mempertahankan hutan tetap hijau.
Tetapi memastikan detak kehidupan yang selama ini tumbuh bersama hutan masih dapat bertahan di tengah iklim yang terus berubah. ***
Artikel Terkait
Kabar Gembira, Satu Individu Orangutan Lahir di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat
Kesempatan Beasiswa Peduli Orangutan Kalbar 2025, Cek Syarat dan Jadwalnya!
20 Tahun Dirantai, Orangutan Jojo Kini Hidup Bebas di Enclosure Semi-Liar Ketapang
Tersasar hingga Makan Cempedak Warga, Dua Orangutan Akhirnya Dilepas ke Habitat Asli
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim