Tidak hanya mengurangi regenerasi pohon, tetapi juga mengurangi ketersediaan pakan bagi satwa yang menggantungkan hidup pada buah dan vegetasi hutan.
Tekanan Berantai terhadap Satwa Liar
Perubahan komposisi pakan dan habitat perlahan memengaruhi perilaku satwa.
Orangutan Kalimantan yang sangat bergantung pada ketersediaan buah hutan dapat memperluas area jelajah ketika sumber pakan menurun.
Baca Juga: Krisis Lingkungan Kian Kompleks, BRIN Minta Perbaikan Tata Kelola Sumber Daya Alam
Pergerakan ini berpotensi meningkatkan interaksi dengan kawasan yang telah digunakan manusia.
Di wilayah rawa dan sepanjang aliran sungai, bekantan juga menghadapi tekanan yang berbeda.
Perubahan pola air, kondisi vegetasi riparian, hingga fluktuasi musim memengaruhi kualitas habitat yang selama ini menopang populasi satwa tersebut.
Konflik yang kemudian muncul di area kebun atau pemukiman sering kali dilihat sebagai gangguan satwa.
Padahal dalam banyak kasus, itu merupakan tanda bahwa ruang hidup alami mereka semakin tertekan.
Perubahan ekosistem di Kapuas Hulu juga menyentuh sumber penghidupan masyarakat.
Salah satunya terlihat pada hasil hutan bukan kayu yang selama ini menjadi penyangga ekonomi lokal.
Produksi madu hutan misalnya.
Wilayah Kapuas Hulu, termasuk kawasan Danau Sentarum, dikenal sebagai penghasil madu hutan dari lebah liar yang bersarang pada pohon-pohon tinggi.
Produktivitas madu sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bunga dan kestabilan musim.
Artikel Terkait
Kabar Gembira, Satu Individu Orangutan Lahir di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat
Kesempatan Beasiswa Peduli Orangutan Kalbar 2025, Cek Syarat dan Jadwalnya!
20 Tahun Dirantai, Orangutan Jojo Kini Hidup Bebas di Enclosure Semi-Liar Ketapang
Tersasar hingga Makan Cempedak Warga, Dua Orangutan Akhirnya Dilepas ke Habitat Asli
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim