Budaya Tumbuh dari Keberanian

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
Momen Anak Muda di PGD. Dokumentasi Foto PGD 2025. Sumber: Panitia.
Momen Anak Muda di PGD. Dokumentasi Foto PGD 2025. Sumber: Panitia.

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Pandangan filosofis orang kita (Dayak) mengajarkan satu hal sederhana, yakni keberadaan ( kekeluargaan ) merupakan eksistensi dan 'sangat' menjadi bermakna ketika diberi ruang.

Heidegger menyebutnya Dasein, ada karena diberi tempat untuk hadir. Pekan Gawai Dayak 2026 bukan sekadar pesta budaya tahunan.

PGD merupakan ruang eksistensial itu.

Ruang di mana orang muda Dayak berhenti menjadi penonton sejarah dan mulai menjadi penulisnya sendiri.

Beberapa hari lalu jagat maya diramaikan komentar viral yang menghujat penampilan seorang artis Dayak yang belum setenar nama besar.

Salah lirik, katanya.

Kurang pantas, katanya.

Tapi yang luput dari sorotan para penghujat adalah detik berikutnya, ia memperbaiki, ia melanjutkan, ia menuntaskan performanya.

Di sanalah pandangan filsafat Stoikisme hidup, bukan (soal) atau tentang tidak pernah jatuh, justru ini adalah tentang bangkit sebelum tepuk tangan berhenti.

Insiden itu seharusnya bukan menjadi alasan menutup pintu, melainkan alasan membuka panggung lebih lebar.

Karena setiap nama besar hari ini, dulunya adalah nama yang “kurang terkenal”.

Setiap suara merdu, dulunya adalah suara yang pernah fals.

Jika Pekan Gawai Dayak hanya memberi tempat bagi yang sudah sempurna, maka PGD akan kehilangan ruhnya, yakni merayakan proses 'men-Jadi'.

PGD 2026 adalah undangan eksistensial bagi saudara-saudara muda Dayak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: SEKBERKESDA

Tags

Rekomendasi

Terkini

X