Kalian yang menulis puisi di kamar kos, yang memetik sape’ sambil belajar chord, yang merancang motif tenun sambil rebahan scroll HP.
Panggung itu milik kalian juga, bukan karena kalian sudah mahir, tapi karena kalian berani tampil.
Filsuf Søren Kierkegaard bilang, keberanian bukan tidak adanya rasa takut, melainkan melangkah meski takut itu ada.
Sama halnya seperti orang muda Dayak hari ini sedang melangkah.
PGD memberi mereka lantai untuk berpijak dan lantai itu tidak menuntut kesombongan, justru lantai tersebut hanya menuntut ketulusan.
PGD terbuka bagi mereka yang tidak sombong.
Terbuka bagi yang mau belajar di depan publik.
Terbuka bagi yang salah lirik tapi tetap menyanyikan bait terakhir dengan dada tegak.
Karena budaya tidak tumbuh dari kesempurnaan, budaya tumbuh dari keberanian untuk mencoba lagi.
Jadi kepada seluruh saudara (satu rahim) Dayak di Pontianak, Sintang, Ketapang, Kapuas Hulu, dan seluruh penjuru tanah Borneo, datanglah.
Bawa gawai, bawa suara, bawa karya yang belum selesai.
PGD 2026 adalah ruang bagi kalian untuk salah, memperbaiki, lalu bersinar.
Karena pada akhirnya, peradaban sebuah suku tidak diukur dari berapa banyak artisnya yang tidak pernah salah.
Tapi dari berapa banyak anak mudanya yang diberi kesempatan untuk naik panggung, walau hanya sekali, lalu pulang dengan hati yang lebih besar.
Sekali lagi bahwa PGD itu bukan lah sekadar pekan, tetapi sangat dalam dan memiliki unsur esensi dari pernyataan filosofis, bahwa setiap orang Dayak berhak punya ruang untuk tampil, untuk tumbuh, untuk menjadi.