PONTIANAKGLOBE.COM, BEKASI -- Suasana duka masih menyelimuti Stasiun Bekasi Timur setelah insiden kecelakaan antara KRL Line Cikarang dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek pada 27 April 2026. Memasuki hari ketujuh, ratusan buket bunga memenuhi berbagai sudut stasiun sebagai bentuk empati atas meninggalnya 16 perempuan dalam peristiwa tersebut.
Unggahan di media sosial memperlihatkan pesan-pesan menyentuh yang ditinggalkan di antara bunga-bunga tersebut. Salah satunya viral setelah diunggah akun TikTok @inez.shita19, berisi permintaan maaf dari sesama korban di gerbong perempuan.
“Selamat jalan para wanita kuat, surga menanti kedatangan kalian,” tulis pesan tersebut.
Baca Juga: Dokter Magang Meninggal, Beban Kerja Jadi Sorotan
“Teruntuk khusus seorang ibu yang terjepit di bagian belakang, sebelah kepala lokomotif, saya tidak tahu siapa ibu, yang saya tahu, ibu berbisik kepada saya dengan kata ‘Tolong’ dan genggam jari telunjuk saya,” lanjut isi pesan itu.
Penulis pesan juga menyampaikan penyesalan karena tidak dapat membantu saat kejadian.
“Tiba-tiba Ibu berhenti berbisik dan melepas genggaman Ibu. Saya cuma mau bilang ke ibu, ‘Maaf ya bu, saya tidak bisa menolong ibu. Selamat jalan ya bu dan 15 wanita lainnya,” tulisnya.
Di sisi lain, perhatian publik juga tertuju pada petugas stasiun yang dengan telaten merawat bunga-bunga tersebut. Mereka terlihat menata buket dengan rapi, menyemprotkan air agar tetap segar, serta menyediakan alas dan tenda untuk melindungi dari cuaca.
Seiring bertambahnya karangan bunga dari masyarakat, lokasi penempatan pun diperluas. Awalnya berada di area lantai dua, kini bunga-bunga juga ditempatkan di luar stasiun hingga ke titik lokasi kecelakaan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Respons pun datang dari KAI Commuter yang menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat.
“Doa serta kepedulian semua pihak sangat berarti bagi kami. Terima kasih sudah bersama-sama menjaga suasana tetap tertib dan penuh penghormatan,” tulis pihak KAI.
Baca Juga: Firdaus Tegaskan Kebebasan Pers Tak Perlu Dipersulit
“Satu tangkai dan satu buket bunga menjadi doa,” lanjutnya.
Meski waktu telah berlalu, aliran doa dan rasa empati dari masyarakat terus hadir, menjadikan lokasi tersebut bukan sekadar tempat kejadian, tetapi juga ruang penghormatan bagi para korban.
Artikel Terkait
KNKT Turun Tangan, Investigasi Kecelakaan Dimulai
Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Ungkap Keterbatasan Sistem Pengereman
Tangis Pagi Hari, Ternyata Jadi Tanda Selamat dari Kecelakaan Kereta di Bekasi
Terjepit dan Nyaris Kehabisan Napas, Cerita Horor dari Dalam KRL
Haru di Balik Tragedi KRL, Busui Ramai Tawarkan Donor ASIP Kepada Bayi Korban
Taspen Sambangi Promedia, Bahas Santunan Rp283 Juta Korban Kecelakaan Kereta