Terjepit dan Nyaris Kehabisan Napas, Cerita Horor dari Dalam KRL

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 30 April 2026 | 22:55 WIB
Menyoroti kesaksian korban selamat dalam KRL di insiden tabrakan kereta pada Stasiun Bekasi Timur. (Dok. Instagram.com/@cretivox)
Menyoroti kesaksian korban selamat dalam KRL di insiden tabrakan kereta pada Stasiun Bekasi Timur. (Dok. Instagram.com/@cretivox)

PONTIANAKGLOBE.COM, BEKASI -- Tragedi tabrakan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, masih menyisakan luka mendalam bagi para korban yang selamat.

Data terbaru mencatat, 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka, dengan sebagian masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Baca Juga: Tangis Pagi Hari, Ternyata Jadi Tanda Selamat dari Kecelakaan Kereta di Bekasi

Salah satu kesaksian datang dari Sausan Sarifah (29), yang sempat terjebak di dalam gerbong KRL saat benturan terjadi. Ia menggambarkan momen itu sebagai pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya.

"Saya pikir saya meninggal," ujarnya.

Sausan menuturkan, situasi awal di dalam kereta berlangsung normal, sebelum tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang.

"Tiba-tiba suara kereta lokomotif itu kenceng banget, langsung (menabrak)," katanya.

Benturan itu terjadi begitu cepat hingga para penumpang tidak sempat menyelamatkan diri.

"Jadi kita nggak ada waktu untuk selamatkan diri, buat keluar (dari kereta)," kenangnya.

Ia menggambarkan kondisi di dalam gerbong seperti gempa. Tubuh para penumpang saling terhimpit, sementara barang-barang berjatuhan menambah kepanikan.

Sausan bahkan sempat terjepit di antara penumpang lain dan tertimpa benda di sekitarnya. Dalam kondisi tersebut, ia mengaku kesulitan bernapas dan hanya bisa pasrah.

"Apalagi kalau misalkan evakuasinya lama, karena di situ sudah ketiban-tiban, jadi kayak pasti akan kehabisan napas," ungkapnya.

Baca Juga: FKIP San Agustin Dukung Kurikulum Deep Learningi

Yang paling membekas baginya adalah saat menyaksikan langsung kondisi korban lain di sekitarnya.

"Mungkin mereka sudah nggak ada juga, karena pas ada di bawah saya, mereka semua udah pada kejang-kejang, kehabisan napas," tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X