Menawan Tak Rupawan Tapi Prestasi

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Kamis, 30 April 2026 | 11:06 WIB
Jayadi,S.Pd.,M.Or
Jayadi,S.Pd.,M.Or

PONTIANAKGLOBE.COM | Modernisasi dari perubahan olahraga memiliki tujuan utama tentang peraihan prestasi terhadap medali, pemegang rekor, dan mendapat peringkat teratas. Sepertinya seorang atlet hanya dilihat dari prestasi yang nampak secara kasat mata.

Bagaimana bentuk tubuh ideal, berparas cantik, kemampuan fisik, daya tahan dan kecepatan dalam setiap momen tercapainya melalui persaingan kemenangan.

Barangkali sering untuk dilupakan dibalik semaraknya suatu nilai prestasi terhadap estetika bentuk fisik dan wajah lebih diperhatikan tanpa harus memenuhi makna dari sudut pandang kemanusian, etika dan keberadaan olahraga yang ditekuni individu atlet. Mungkin ini suatu ungkapan disebut menawan tak rupawan tapi prestasi.

Kesempurnaan fisik merupakan kata yang tepat untuk arti rupawan, dengan wajah cantik jelita, tubuh laksana gitar spanyol dan proporsional, hal ini sangat standar dari estetika popular saat ini. Terdapat bukti dari sesuatu yang berbeda menurut kacamata disisi olahraga, menawan terlihat dari kualitas sikap, karakter, integritas, bagaimana individu atlet menjalani dan menerima suatu proses latihan fisik olahraga.

Bagaimana seorang atlet dengan berwajah tidak rupawan, akan tetapi sangat menawan atas ketekunan, rendah hati, disiplin yang kuat dan memegang teguh sportivitas. Apa artinya jika prestasi yang diraih di arena kompetisi menjadi kekuatan untuk memenangkan kejuaraan akan terlupakan di tengah sorotan mata.    

Suatu nilai tidak terletak pada hasil yang diraih, melainkan melalui perjalanan dari kebiasaan perbuatan baik. Proses yang tidak singkat melalui prestasi bukan untuk kata unggul dan menang, bagaimana sabar dalam menjalani latihan, bertahan atas nilai moral, penuh kejujuran, dan menghargai lawan tanding.

Konteks ini merupakan kemenangan bukan penuh dengan kecurangan menghalalkan segala cara dianggap benar. Bagaimana seorang atlet menawan namun tak rupawan berprestasi selalu tercermin melalui keutamaan, ia unggul tapi tidak untuk suatu bentuk penampilan secara fisik dan wajah, namun memiliki jiwa kuat dalam mencapai prestasi.

Realitas saat ini adalah kecenderungan fenomena olahraga modern untuk mengalami modifikasi lebih dominan, dengan menampilkan atlet-atlet berwajah cantik dan menawan untuk mendapatkan dukungan, namun bertolak belakang dengan atlet-atlet yang berpenampilan sebaliknya.

Peran media dalam industri olahraga semakin berkembang, berfokus pada cara untuk menghasilkan lebih banyak pengikut, mungkin dengan menampilkan estetika bentuk fisik dan wajah, penggunaan pakaian, dan gerakan atlet tertentu, lebih hangat menarik netizen melalui media audio-visual, tetapi tanpa membahas kemenangan dan nilai-nilai etika.

Cara atlet mengenakan pakaian diberbagai cabang olahraga sudah menjadi aturan berlaku, terkadang harus ketat atau istilah compression wear, baselayer dan legging, yang berfungsi meningkatkan peredaran darah dan membantu gerakan mobilitas lebih luwes.

Berdasarkan pembenaran dari hasil penelitian menunjukkan bahwa efek pada tekanan kompresi pakaian yang sempit atau ketat digunakan memberikan pengaruh kenyamanan secara fisiologis pada atlet, tekanan kompresi dari pakaian menyebabkan cepatnya keluar keringat meningkatkan suhu kulit lebih tinggi (Halasz et al, 2022). Sangat disesalkan fashion berpakaian kebanyakan orang di luar lapangan olahraga sudah banyak meniru bagaimana atlet mengenakan pakaian mereka pada saat bertanding dan perlombaan dipastikan tak terelakkan untuk setiap mata memandang.

Bagaimana dengan sebaliknya atlet yang kurang memenuhi kata rupawan, akibatnya merasa terlewati, terpingirkan, walaupun memiliki prestasi terhebat. Netizen hanya mengenal rupawan akan tetapi telupakan yang tak rupawan. Sejatinya olahraga bukan memandang fisik, setiap atlet pastinya memiliki makna dan arti bukan hanya sesuatu yang ditontonkan. Bagaimana olahraga dapat memanusiakan manusia sesungguhnya.

Menawan tak rupawan yang berprestasi menjelaskan bahwa bagaimana gerak tubuh bukan sekedar diperlihatkan melalui estetika, namun suatu pengalaman penuh isyarat tentang perjuangan.

Sepantasnya tubuh sebagai media sarana seorang manusia, bertujuan dalam beriteraksi terhadap dunianya, mengalami batasan karena adanya rasa sakit dari kegagalan setiap tujuan pencapaian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X