Sepanjang hidupnya, St Gerardus menghabiskan berjam-jam lamanya setiap hari dalam sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus demi memuliakan Tuhan dan mengucap syukur atas segala rahmat dan berkat-Nya.
Ibunda Gerardus, Benedetta, mengatakan bahwa puteranya “terlahir bagi surga,” dan mengisahkan bagaimana Gerardus melewatkan berjam-jam lamanya di hadapan Sakramen Mahakudus “hingga ia lupa bahwa saat makan malam telah tiba.”
Wafat
Pada tahun 1755, ia terserang pendarahan hebat dan disentri, maut dapat sewaktu-waktu merenggut nyawanya.
Tetapi, ia masih hendak mengajarkan suatu pelajaran berharga mengenai kuasa ketaatan.
Direkturnya memerintahkan Gerardus untuk segera sembuh, jika memang sesuai kehendak Tuhan; maka, sekonyong-konyong penyakitnya tampak lenyap dan ia segera meninggalkan pembaringannya untuk menggabungkan diri dengan komunitas.
Namun demikian, ia tahu bahwa kesembuhannya hanyalah untuk sementara waktu saja dan bahwa jangka hidupnya hanya tinggal sebulan saja.
Tak lama berselang ia memang kembali ke pembaringannya karena tuberculosis, dan ia mulai mempersiapkan diri menyongsong kematiannya. Antara tengah malam pada tanggal 15 Oktober 1755, dini hari dari hari berikutnya, jiwanya yang tak berdosa pulang kembali kepada Tuhan. Usianya baru 29 tahun.
Saat kematian Gerardus, broeder yang bertugas di sakristi, dalam kegugupannya, membunyikan lonceng seolah hendak dirayakan suatu pesta, dan bukan membunyikannya sebagai tanda kematian.
Beribu-ribu orang datang untuk menyaksikan tubuh “Il Santo” mereka dan berusaha mendapatkan kenang-kenangan terakhir dari dia yang telah begitu banyak kali menolong mereka.
Setelah wafatnya, mulailah dilaporkan terjadinya berbagai mukjizat dari hampir segenap penjuru Italia dengan perantaraan St Gerardus. Pada tanggal 29 Januari 1893, Paus Leo XIII memaklumkannya sebagai Beato, dan pada tanggal 11 Desember 1904, Santo Paus Pius X memaklumkannya sebagai Santo. Pesta St Gerardus Majella dirayakan pada tanggal 16 Oktober.
Saputangan Sang Santo
Perantaraan ajaib St Gerardus bagi para ibu dimulai sejak dari masa hidupnya.
Artikel Terkait
Santo Eduardus, Raja Inggris dan Pengaku Iman
Santo Gerald of Aurillac, Memilih Hidup Saleh Walau Bukan Bergabung sebagai Anggota Ordo
Santo Paus Yohanes XXIII Pencetus Konsili Vatikan II
Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman. Keberanian Lawan Adat Istiadat dan Liturgi Klerik
Santo Felix dari Afrika Utara. Dibuang ke Padang Gurun Libya agar Mati Kelaparan dan Kehausan
Santo Paus Kalistus I Bekas Budak Belian yang Terpilih Menjadi Paus Ke-16