Di tepi hutan, aku berhenti.
Dulu aku membayangkan kita akan menua bersama. Kau akan tetap cerewet tentang hal-hal kecil, dan aku akan berpura-pura kesal hanya agar bisa mendengar celotehmu lebih lama.
Tapi hidup memilih cara lain.
Ia tidak pernah pernah meminta izin.
Ia hanya mengambil yang diinginkan.
Sekarang, aku memilih untuk tidak lagi marah atau mendendam.
Tidak pada takdir.
Tidak pada Tuhan.
Tidak juga padamu.
Apakah aku sudah sembuh?
Mungkin ini, hanya berhenti menggenggam.
***
Fajar merayap perlahan. Lembut dan senyap. Nyaris tak terlihat, seperti harapan yang tak ingin mengusik apa-apa.
Aku menarik napas panjang.
Udara terserap tanpa beban.