Ternyata bukan.
Sebuah arus deras melewati lututku. Aku tergeragap dan sadar.
“Air tidak menyimpan apa pun,” kata tetua di tepian sungai. “Ia hanya membawa.”
Aku menatap arus sungai. Aku ingin menjadi seperti air. Tapi aku masih manusia yang ingin mengingat.
Di balai, asap kemenyan membubung perlahan. Bau getirnya memenuhi udara, seperti memaksa dadaku membukakan pintunya. Di kejauhan, sandung berdiri sunyi – rumah kecil bagi tulang yang telah dibersihkan dari dunia.
Gong dan tawak ditabuh pelan. Seperti enggan mengganggu ketenangan roh si mati.
Orang-orang mulai menari.
Aku turut serta, berdiri di tengah lingkaran. Tubuhku bergerak mengikuti irama yang tak kupahami sepenuhnya. Namun ada sesuatu dalam diriku yang berbisik, ini bukan tentang tarian.
Ini pelepasan.
Setiap hentakan kaki, seperti kalimat yang tak sempat diucapkan:
Aku mencintaimu.
Aku kehilangamu.
Dan aku tidak tahu kapan tepatnya kau mulai pergi, meski ragamu masih duduk di depanku ketika itu.
Asap berputar di atas kepala kami. Beberapa penari larut dalam trance. Di di antara bunyi dan gerak itu, sebuah bisikan melintas: debu kembali ke debu.
Aku tidak ingin menoleh.
Artikel Terkait
Merokok Saat Nyetir, Pelanggaran yang Sering Diabaikan
Remaja Tewas Dibacok, Kronologi Versi Warga
KUHP Baru Tandai Era Baru Penegakan Hukum Indonesia yang Lebih Modern
Sosialisasi KUHP di Pontianak, Dirjen AHU Tekankan Pendekatan Preventif
Vatikan Gunakan Bahasa Indonesia Secara Resmi, Kardinal Suharyo Ungkap Dua Alasan Penting saat Terima Kunjungan PWKI
Sungai di Belakang Rumah Ibu