Enam Siswa SMAN 1 Bengkayang Buktikan Daerah Mampu Bersaing di Ajang Debat Kalbar

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Minggu, 28 Juni 2026 | 18:19 WIB
Viorinu Ayatra Ami (paling kanan) bersama tim dari Bengkayang. Pelajar SMAN 1 Bengkayang, tersebut dinobatkan sebagai First Best Speaker pada NSDC Tingkat Provinsi Kalimantan Barat. (Dok. Setda Kabupaten Bengkayang)
Viorinu Ayatra Ami (paling kanan) bersama tim dari Bengkayang. Pelajar SMAN 1 Bengkayang, tersebut dinobatkan sebagai First Best Speaker pada NSDC Tingkat Provinsi Kalimantan Barat. (Dok. Setda Kabupaten Bengkayang)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Jarak ratusan kilometer dari Bengkayang menuju Pontianak tidak menyurutkan semangat enam pelajar SMAN 1 Bengkayang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di ajang Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Schools Debating Championship (NSDC) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2026.

Selama empat hari, mereka bersaing dengan 21 sekolah terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Semangat Kebersamaan Warnai Perayaan HUT ke-102 WKRI di Paroki Santa Maria Nyarumkop

Hasilnya tidak mengecewakan. Kontingen SMAN 1 Bengkayang membawa pulang sederet prestasi, termasuk melahirkan wakil Kalimantan Barat untuk NSDC Tingkat Nasional.

Tim debat bahasa Inggris yang diperkuat Viorinu Ayatra Ami, Augrey Gatthan Aprido, dan Alvin berhasil menembus lima besar dengan menempati peringkat kelima.

Di antara mereka, Viorinu Ayatra Ami, tampil gemilang setelah dinobatkan sebagai First Best Speaker, prestasi yang mengantarkannya mewakili Kalimantan Barat pada NSDC Tingkat Nasional yang akan berlangsung pada Agustus 2026.

Baca Juga: Viorinu Ayatra Ami Wakili Kalbar pada NSDC Nasional 2026

Sementara itu, tim LDBI yang terdiri atas Gloria, Adhra, dan Suma Jubata juga menunjukkan penampilan yang membanggakan.

Mereka menempati peringkat keenam dari 21 sekolah peserta, membuktikan kemampuan siswa dari daerah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan di tingkat provinsi.

Di balik pencapaian tersebut, ada proses panjang yang tidak terlihat.

Sebelum berangkat ke Pontianak, keenam siswa menjalani latihan intensif bersama guru pendamping Rusviana Bernadeta.

Baca Juga: Lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop, Ketika Hutan Belantara Menjadi Taman Pendidikan

Berbagai materi dipelajari, mulai dari teknik menyusun argumentasi, memperkuat logika berpikir, hingga meningkatkan kemampuan berbicara di depan dewan juri.

Perjalanan ke Pontianak bukan sekadar mengikuti perlombaan.

Bagi mereka, ajang ini menjadi ruang belajar untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan membangun rasa percaya diri saat berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X