Tiwah: Pusara Cinta yang Tak Selesai

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 8 Mei 2026 | 11:36 WIB
Foto ilustrasi dibuat dengan AI.
Foto ilustrasi dibuat dengan AI.

Cerpen: Willy Wedhanta

Yang tersisa dari cinta / perlu diantar dengan upacara, / agar ia tidak gentayangan / di antara malam dan ingatan.

HUTAN selalu mendahului kita untuk tahu. Ia menangkap retak bahkan sebelum hati mengakuinya. Pada batang batang ulin renta, pada akar-akar yang memeluk bumi, segala yang patah tak pernah lenyap seutuhnya, hanya berpindah tempat tinggal.

Aku mudik ke hulu ketika kabut belum pupus, menggantung di antara dahan, seperti napas yang tertahan. Orang-orang menyebut perjalanan ini kepulangan. Tapi bagiku, iini bukan kembali.

Ini pengantaran.

Sesuatu dalam diriku telah mangkat; dan yang mati itu tak akan kubiarkan bergentayangan.

Namamu.

***

Balai itu berdiri di tepi kampung, dari kayu ulin yang menghitam oleh usia. Di sisinya, sapundu berjejer tegak, patung kayu yang memahat ingatan, tempat roh pernah ditambatkan sebelum dilepas menuju negeri yang jauh.

Aku duduk bersila di lantai balai.

Tak ada jasad di hadapanku. Hanya serpih-serpih kenangan yang belum selesai.

Aku mengingat sore itu di beranda kos. kau mampir, meminjam jaketku karena hujan datang tanpa aba-aba dan tak kunjung reda. Rambutmu basah, dan kau tertawa tanpa beban, “Aku nggak cantik kalau begini.”

Aku tidak berkomentar apa-apa. Terlalu sibuk mengagumi parasmu yang begitu memukau karena tampak alami.

Barangkali sejak saat itu aku sudah kalah.

“Yang tak selesai di dunia,” ujar tetua adat, suaranya serupa kayu tua digesek angin, “harus dituntaskan dalam upacara.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X