PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Bank Central Asia (BCA) Kantor Cabang Utama (KCU) Kubu Raya bekerja sama dengan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB) Pontianak menggelar kegiatan Literasi Keuangan bertajuk “Mengelola Keuangan Masa Depan”.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus AKUB Pontianak ini diikuti oleh seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan (tendik) sebagai upaya meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan pribadi sejak dini.
Hadir sebagai narasumber, Kepala Bagian Prioritas BCA Kubu Raya, Devy Junita, yang membagikan berbagai pengetahuan praktis mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan masa depan, hingga peluang karier di dunia perbankan melalui Program Magang Bakti BCA.
Dalam pemaparannya, Devy menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebagai fondasi utama pengelolaan keuangan yang sehat.
Menurutnya, banyak orang mengalami kesulitan keuangan bukan karena penghasilannya kurang, melainkan karena tidak mampu membedakan mana kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana keinginan yang dapat ditunda.
“Kebutuhan adalah hal-hal yang memang harus dipenuhi dalam kehidupan kita. Kalau tidak makan seminggu tentu tidak bisa, tetapi kalau tidak minum kopi seminggu masih bisa. Artinya kopi bukan kebutuhan utama, melainkan keinginan,” ujar Devy di hadapan peserta.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia meliputi sandang, pangan, dan papan. Di luar kebutuhan pokok tersebut, seseorang perlu lebih bijaksana dalam menentukan prioritas pengeluaran agar kondisi keuangannya tetap sehat.
Selain itu, Devy juga memperkenalkan prinsip penting dalam mengelola keuangan, yakni “sisihkan, bukan sisakan.”
Menurutnya, kebiasaan menabung harus dilakukan sejak awal menerima penghasilan, bukan menunggu adanya sisa uang di akhir bulan.
Ia memberikan contoh sederhana. Jika seseorang memiliki penghasilan Rp3 juta dan ingin menabung Rp1 juta, maka uang tabungan tersebut harus langsung dipisahkan terlebih dahulu. Sementara itu, kebiasaan menggunakan seluruh penghasilan untuk berbagai kebutuhan lalu menabung dari sisa yang ada sering kali membuat tujuan keuangan sulit tercapai.
“Untuk membangun kondisi keuangan yang sehat, kita harus membiasakan diri menyisihkan uang terlebih dahulu, bukan menunggu ada sisa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Devy juga mengingatkan peserta agar menggunakan uang berdasarkan fungsi, bukan gengsi. Ia mencontohkan perilaku konsumtif yang sering terjadi ketika seseorang membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena mengikuti tren atau ingin terlihat lebih bergengsi.
“Kita harus bijaksana dalam mengelola keuangan. Setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan manfaat dan fungsinya, bukan sekadar untuk memenuhi gengsi atau keinginan sesaat,” katanya.
Lebih lanjut, Devy mengajak mahasiswa untuk mulai merancang tujuan keuangan sejak usia muda. Menurutnya, setiap orang perlu memiliki target yang jelas mengenai apa yang ingin dicapai di masa depan, baik berupa pendidikan, kepemilikan rumah, modal usaha, maupun dana pensiun.