Aku tidak tahu yang mana yang lebih menyakitkan.
Namun ritus tidak menunggu kesiapan.
Aku menyebut namamu.
Api tetap menyala. Angin tidak berubah arah. Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda apa pun.
Hanya sunyi.
Sunyi yang kini tak lagi menakutkan; meski tidak juga menawarkan penghiburan.
Aku terlarut dalam suasana, memikirkan sesuatu yang selama ini berusaha aku tolak: cinta tidak hilang.
Ia hanya berhenti menuntut.
***
Ketika upacara mencapai puncaknya, sesuatu yang kasatmata itu, kenangan itu seakan terangkat. Bukan oleh jemari para tetua, atau keluarga, melainkan oleh kepasrahan. Ya, dariku.
Dadaku terasa lapang.
Sekaligus kosong.
Seperti rumah yang pintunya terbuka, tetapi tak lagi menunggu siapa pun pulang.
Orang-orang beranjak pulang. Tetabuhan telah berhenti. Perapian semakin redup.
Aku menuruni tangga balai, melewati sapundu, melewati barisan sandung, melewati jejak-jejak yang sebentar lagi akan lenyap dihapus hujan.
Artikel Terkait
Merokok Saat Nyetir, Pelanggaran yang Sering Diabaikan
Remaja Tewas Dibacok, Kronologi Versi Warga
KUHP Baru Tandai Era Baru Penegakan Hukum Indonesia yang Lebih Modern
Sosialisasi KUHP di Pontianak, Dirjen AHU Tekankan Pendekatan Preventif
Vatikan Gunakan Bahasa Indonesia Secara Resmi, Kardinal Suharyo Ungkap Dua Alasan Penting saat Terima Kunjungan PWKI
Sungai di Belakang Rumah Ibu