Aku tidak perlu tahu dari mana suara itu datang.
Tidak semua hal perlu dijelaskan agar terasa benar.
Aku teringat pada sebuah kisah, tentang seseorang yang berlutut di taman, meminta agar penderitaan itu lewat darinya, tapi akhirnya tetap meneguk cawan pahit itu hingga habis.
Barangkali cinta juga seperti itu.
Ia tidak selalu menyelamatkan.
Kadang ia hanya memastikan bahwa kita sungguh-sungguh hidup, sebelum akhirnya ditinggalkan.
***
Malam tiba tanpa gaduh. Api dinyalakan di depan balai. Cahaya jingganya memantul di wajah-wajah yang telah akrab dengan kehilangan. Tak ada lagi tangisan. Tak ada lagi ratapan. Di tengah balai, lampu bertenaga panel surya menyingkirkan pekatnya kelam. Terangnya, sedikit memudarkan suasana duka.
Hanya kehadiran.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Menguatkan.
Aku berjongkok di depan perapian.
“Panggil namanya untuk terakhir kali,” kata tetua itu.
Dadaku mengencang.
Namamu bergetar di ujung lidahku. Jika kusebut, akankah kau datang? Atau justru benar-benar lenyap?