Aku ingin bertanya, bagaimana caranya mengubur sesuatu yang tak pernah hidup sebagai raga?
Namun aku memilih diam.
Sebab aku sudah mencoba jalan lain, berdoa hingga kata-kata mengering, berharap langit menukarnya dengan lupa. Menjauhimu, berpindah kota, hingga langkah kehilangan arah, menukar ingatan dengan kesibukan yang dipaksakan.
Tapi rindu tak mengenal jarak.
Ia menetap.
Serupa arwah yang lupa bahwa ia telah lama mati.
***
Pagi itu, kami turun ke sungai. Airnya tenang, cokelat keemasan, membawa dedaunan gugur, reranting patah, dan sisa-sisa sesuatu yang tak bisa lagi didefinisikan dengan nama tertentu. Aku menenggelamkan diriku, sebatas leher, dan dingin langsung menggigit kulitku, seperti kebenaran yang tak bisa ditunda untuk dinyatakan.
Kubasuh wajahku.
Lalu dadaku.
Lalu lengan dan jemari yang pernah memeluk bahumu terlalu erat, seolah dunia bisa berhenti jika aku tak melepaskanmu.
Aku ingat malam terakhir itu.
Kita duduk di teras warung kecil, milik Bu Ning langgananku. Lampunya temaram, dan kau tak banyak bicara. Hanya memainkan sendok di gelas teh yang telah dingin.
“Aku capek,” katamu perlahan.
Aku mengira tentang hari itu.