Dari Australia hingga Kalimantan Barat, Dunia Bersiap Hadapi Dampak El Niño

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:32 WIB
Seorang anak laki-laki membawa karung dan wadah melintasi lahan berlumpur di Kurigram, Bangladesh. Kondisi tersebut menggambarkan kerentanan masyarakat terhadap perubahan cuaca dan tekanan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut. (Pexels/Masudar Rahman)
Seorang anak laki-laki membawa karung dan wadah melintasi lahan berlumpur di Kurigram, Bangladesh. Kondisi tersebut menggambarkan kerentanan masyarakat terhadap perubahan cuaca dan tekanan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut. (Pexels/Masudar Rahman)

Di kawasan pesisir dan sekitar DAS utama, berkurangnya debit air juga berpotensi meningkatkan intrusi air laut ke daratan dan memengaruhi produktivitas pertanian.

Artinya, bagi Kalimantan Barat, El Niño bukan hanya ancaman cuaca—tetapi juga ujian terhadap ketahanan air, perlindungan gambut, dan keberlanjutan pangan.

Para ilmuwan memperkirakan pengaruh El Niño akan semakin terasa menuju akhir 2026 hingga awal 2027.

Namun besarnya dampak tidak ditentukan oleh fenomena iklim semata.

Yang akan menentukan adalah seberapa siap setiap wilayah mengelola sumber air, menjaga ekosistem alami, serta menyesuaikan sistem pertanian terhadap pola musim yang semakin sulit diprediksi.

Karena pada akhirnya, El Niño bukan hanya soal langit yang lebih panas—tetapi tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, dan daerah mampu bertahan ketika pola iklim tidak lagi berjalan seperti biasanya. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X