Di kawasan pesisir dan sekitar DAS utama, berkurangnya debit air juga berpotensi meningkatkan intrusi air laut ke daratan dan memengaruhi produktivitas pertanian.
Artinya, bagi Kalimantan Barat, El Niño bukan hanya ancaman cuaca—tetapi juga ujian terhadap ketahanan air, perlindungan gambut, dan keberlanjutan pangan.
Para ilmuwan memperkirakan pengaruh El Niño akan semakin terasa menuju akhir 2026 hingga awal 2027.
Namun besarnya dampak tidak ditentukan oleh fenomena iklim semata.
Yang akan menentukan adalah seberapa siap setiap wilayah mengelola sumber air, menjaga ekosistem alami, serta menyesuaikan sistem pertanian terhadap pola musim yang semakin sulit diprediksi.
Karena pada akhirnya, El Niño bukan hanya soal langit yang lebih panas—tetapi tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, dan daerah mampu bertahan ketika pola iklim tidak lagi berjalan seperti biasanya. ***
Artikel Terkait
Keren, SMP di Kubu Raya Kini Punya Kurikulum Gambut dan Mangrove
Kopi Liberika, Khas Kalimantan Barat Yang Tumbuh Subur di Lahan Gambut
Kopi Gambut Sendoyan Sambas, Siap Bersaing Dengan Arabika dan Robusta
Sukses Taklukkan Lahan Gambut Dengan Komoditi Tanam Tumpangsari Melon Dan Cabe
Krisis Lingkungan Kian Kompleks, BRIN Minta Perbaikan Tata Kelola Sumber Daya Alam
Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat