Dari Australia hingga Kalimantan Barat, Dunia Bersiap Hadapi Dampak El Niño

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 12 Juni 2026 | 20:32 WIB
Seorang anak laki-laki membawa karung dan wadah melintasi lahan berlumpur di Kurigram, Bangladesh. Kondisi tersebut menggambarkan kerentanan masyarakat terhadap perubahan cuaca dan tekanan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut. (Pexels/Masudar Rahman)
Seorang anak laki-laki membawa karung dan wadah melintasi lahan berlumpur di Kurigram, Bangladesh. Kondisi tersebut menggambarkan kerentanan masyarakat terhadap perubahan cuaca dan tekanan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut. (Pexels/Masudar Rahman)

Bagi Australia, El Niño bukan hanya soal kenaikan temperatur.

Fenomena ini secara historis berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan, tekanan terhadap sektor pertanian, serta potensi kebakaran hutan yang lebih besar ketika memasuki musim panas.

Baca Juga: Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim

Namun para peneliti juga mengingatkan bahwa dampaknya tetap dipengaruhi faktor iklim lain sehingga tidak selalu menghasilkan pola yang sama setiap periode.

Bagi Indonesia, dampak El Niño umumnya muncul dalam bentuk penurunan curah hujan dan perpanjangan musim kemarau.

Wilayah yang bergantung pada hujan untuk pertanian menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan ini.

Ketika curah hujan menurun, masa tanam bergeser, debit sungai ikut berkurang, dan tekanan terhadap kebutuhan air bersih meningkat.

Kondisi tersebut juga dapat memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah yang memiliki bentang alam gambut.

Di sektor pangan, tantangannya tidak hanya soal produksi menurun, tetapi juga menjaga stabilitas distribusi dan harga ketika cuaca mulai memengaruhi hasil panen.

Kalimantan Barat Menghadapi Ujian Berbeda

Jika sebagian wilayah Indonesia menghadapi ancaman kekeringan pertanian, Kalimantan Barat memiliki kerentanan tambahan, yaitu ekosistem gambut.

Saat kemarau berlangsung lebih panjang, kelembapan gambut menurun dan struktur tanah kehilangan kemampuan menyimpan air.

Dalam kondisi seperti itu, gambut dapat berubah menjadi material yang sangat mudah terbakar dan memicu kebakaran bawah permukaan yang sulit dipadamkan.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena Kalimantan Barat memiliki riwayat kebakaran lahan dan kabut asap saat musim kering berlangsung ekstrem.

Wilayah seperti Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, hingga Sambas termasuk kawasan yang sangat bergantung pada stabilitas hidrologi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X