“Jadi kapalnya sih langsung dari Indonesia ke Amerika misalnya, tapi kertasnya dimainkan di Singapura,” ungkapnya.
Menurut Purbaya, rata-rata harga barang di negara tujuan mencapai dua kali lipat dibanding harga ekspor yang tercatat dari Indonesia ke Singapura.
“Dari kasus setiap perusahaan itu, rata-rata harga di Amerika atau di tujuan, dibanding harga yang kita jual dari sini ke Singapura, itu 2 kalinya,” jelasnya.
“Dari situ saya sudah rugikan setengah dari potensi pendapatan saya. Jadi kementerian keuangan saya rugi,” tambah Purbaya.
Baca Juga: Eks Jurnalis INews Beberkan Dugaan Kekerasan Militer Israel
Tak hanya di sektor kelapa sawit, pola serupa juga disebut ditemukan dalam ekspor batu bara ke India.
“Sama juga yang produk ekspor batu bara ke India juga ada kita temukan kasus seperti itu,” bebernya.
Kasus ini kini memicu sorotan publik terkait pengawasan tata kelola ekspor sumber daya alam serta potensi kerugian negara akibat manipulasi nilai ekspor dan transfer pricing lintas negara.***
Artikel Terkait
Satgas PKH Tagih Rp2,34 Triliun dari Perusahaan Sawit dan Tambang, Hutan 4 Juta Hektare Direbut Kembali
Sawit Dicabut, Tambang Disegel: Negara Mulai Serius Benahi SDA
Kemenkeu Bantah Isu Menkeu Purbaya Tertipu Dana Rp200 Triliun Himbara
Hina Negara? Purbaya Minta Dana LPDP Dikembalikan
Purbaya: Blacklist Permanen untuk Tyas dan Arya
Detik-Detik Minyak Sawit Tumpah di Banyuasin, Pengendara Panik Hindari Jalan Licin