Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 13 April 2026 | 09:12 WIB
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco.  (Dok. Pontianak Globe)
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, ROMA -- Di tengah dunia yang sedang dilanda perang-perang besar yang membuat semua orang takut dan cemas karena masa depan yang tidak menentu, Paus Leo XIV dan Gereja Katolik mempersembahkan doa khusus memohon perdamaian, Sabtu malam, 11 April 2026 di Basilika Santo Petrus Vatikan, dan di berbagai belahan dunia.

Romo Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Takhta Suci yang berasal dari Indonesia, mengajak kita semua menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini.

Baca Juga: Yang Tinggal, Yang Masih Berjejak

“Iman dan doa dapat memindahkan gunung. Mari menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini. Sebarkan ke semua orang dan ke berbagai tempat, agar dunia kita segera kembali kepada perdamaian dan kedamaian sejati. Perang adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama. Sekali lagi, silakan share. Terima kasih,” tutur Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci yang akrab disapa Padre Marco melalui kanal youtube PdM. Simak di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=EI-YS75Q-bs


Berikut transkrip Padre Marco atas Refleksi renungan Paus Leo XIV pada doa malam untuk perdamaian di Basilika Santo Petrus Vatikan, Sabtu 11 April 2026.

Saudara-saudari terkasih, doa Anda adalah ungkapan iman yang menurut perkataan Yesus dapat memindahkan gunung.

Bandingkan Injil Matius pasal 17 ayat 20.

Terima kasih telah menerima undangan ini untuk berkumpul di sini di makam Santo Petrus dan di begitu banyak tempat lain di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian.

Perang memecah belah, tetapi harapan mempersatukan.

Baca Juga: Tonggeret Dalam Cawanku

Kesombongan menginjak-injak orang lain tetapi kasih mengangkat. Penyembahan berhala membutakan kita, tetapi Allah yang hidup menerangi.

Sahabat-sahabatku terkasih, yang dibutuhkan hanyalah sedikit iman, hanya remah iman untuk menghadapi saat-saat dramatis dalam sejarah ini secara bersama-sama sebagai umat manusia dan bersama umat manusia seluruh dunia.

Doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab kita.

Bukan pula obat bius untuk mematikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh begitu banyak ketidakadilan. Sebaliknya doa adalah tanggapan yang paling tanpa pamri universal dan transformatif terhadap kematian.

Kita adalah umat yang telah bangkit di dalam diri kita masing-masing.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X