Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 13 April 2026 | 09:12 WIB
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco.  (Dok. Pontianak Globe)
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco. (Dok. Pontianak Globe)

Dengan kesederhanaan Injil, Santo Paus Yohanes ke-23 pernah menulis demikian, manfaat perdamaian akan dirasakan di mana-mana oleh individu, oleh keluarga, oleh bangsa, oleh seluruh umat manusia dan menggemahkan kata-kata tajam Paus Pius ke-12.

Ia Paus Yohanes ke-23 menambahkan, "Tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang."

Surat Ensiklik Pacem Interis dari Paus Yohanes 23 nomor 116. Oleh karena itu, marilah kita satukan kekuatan moral dan spiritual jutaan dan miliaran pria dan wanita, muda dan tua yang hari ini memilih untuk percaya pada perdamaian, menyembuhkan luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.

Saya menerima banyak sekali surat dari anak-anak di daerah konflik.

Dalam membacanya kita melihat melalui lensa kepolosan semua kengerian dan ketidak manusiaan dari tindakan yang dibanggakan oleh sebagian orang dewasa. Marilah kita mendengarkan suara anak-anak.

Saudara-saudari terkasih, tentu ada tanggung jawab yang mengikat yang dibebankan kepada para pemimpin bangsa.

Kepada mereka kita berseru, "Hentikan perang, sudah waktunya untuk perdamaian.

Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat perencanaan persenjataan ulang dan tindakan mematikan diputuskan.

Namun, ada tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya yang dibebankan kepada kita semua pria dan wanita dari seluruh dunia.

Kita adalah orang-orang yang menolak perang bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan.

Doa mengajak kita untuk meninggalkan segala kekerasan yang masih tersisa di hati dan pikiran kita.

Marilah kita berpaling kepada kerajaan perdamaian yang dibangun hari demi hari di rumah kita, sekolah, lingkungan, dan komunitas sipil serta keagamaan kita. Sebuah kerajaan yang melawan polemik dan keputusasaan melalui persahabatan dan budaya perjumpaan.

Marilah kita percaya sekali lagi pada cinta, moderasi, dan politik yang baik.

Kita harus membentuk diri kita sendiri dan terlibat secara pribadi masing-masing mengikuti panggilan kita sendiri.

Setiap orang memiliki tempat dalam mosaik perdamaian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X