Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 13 April 2026 | 09:12 WIB
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco.  (Dok. Pontianak Globe)
Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Padre Marco. (Dok. Pontianak Globe)

Di dalam setiap manusia, guru spiritual kita mengajarkan perdamaian, mendorong kita menuju perjumpaan, dan menginspirasi kita untuk memohon.

Marilah kita bangkit dari reruntu Tuhan.

Tidak ada yang dapat membatasi kita pada takdir yang telah ditentukan bahkan di dunia ini di mana tampaknya tidak pernah ada cukup kuburan karena orang terus menyalibkan satu sama lain dan melenyapkan kehidupan tanpa memperhatikan keadilan dan belas kasihan. 

Baca Juga: Prabowo Apresiasi Satgas PKH, Sebut Pahlawan Penjaga Aset Negara

Dalam konteks krisis perang Irak tahun 2003, Santo Yohanes Paulus, seorang pembela perdamaian yang tak kena lelah berkata dengan penuh keprihatinan, demikian, "Saya termasuk generasi yang hidup melalui perang dunia kedua dan syukur kepada Tuhan selamat dari perang ini. Saya memiliki kewajiban untuk mengatakan kepada semua generasi muda, kepada mereka yang lebih muda dari saya yang belum mengalami pengalaman peperangan ini, tidak ada lagi perang. Seperti yang dikatakan Paus Paulus ke-6 selama kunjungan pertamanya ke perserikatan bangsa-bangsa.

Kita harus melakukan segala yang mungkin. Kita tahu betul bahwa perdamaian tidak mungkin dicapai dengan harga berapun. Tetapi kita semua tahu betapa besar tanggung jawab ini.

Doa Angelus Paus Yohanes Paulus 16 Maret 2003

Malam ini kata Paus Leo, saya menjadikan seruan Paus Yohanes Paulus ke-2 ini sebagai seruan saya juga karena relevansinya sangat terasa hingga saat ini. Doa mengajarkan kita bagaimana bertindak.

Dalam doa keterbatasan kemampuan manusia kita disatukan dengan kemungkinan tak terbatas dari Tuhan. pikiran, kata-kata, dan perbuatan kemudian memutus siklus kejahatan dan ditempatkan untuk melayani kerajaan Allah. Sebuah kerajaan di mana tidak ada pedang, tidak ada drone, tidak ada pembalasan, tidak ada penyepelehan kejahatan, tidak ada keuntungan yang tidak adil, tetapi hanya martabat, pengertian, dan pengampunan.

Di sinilah kita menemukan benteng melawan ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan menjadi semakin tidak terduga dan agresif. Keseimbangan dalam keluarga manusia telah sangat terganggu. Bahkan nama kudus Tuhan, Tuhan kehidupan diseret ke dalam wacana kematian.

Dunia saudara dan saudari dengan satu Bapa surgawi lenyap seperti dalam mimpi buruk. memberi jalan kepada realitas yang dipenuhi musuh. Kita dihadapkan dengan ancaman ahli-ahli undangan untuk mendengarkan dan bersatu.

Saudara dan saudari, mereka yang berdoa menyadari keterbatasan mereka sendiri, mereka tidak membunuh atau mengancam dengan kematian.

Sebaliknya, kematian memperbudak mereka yang telah membelakangi Allah yang hidup menjadikan diri mereka sendiri dan kekuatan mereka menjadi berhala yang bisu, buta, dan tuli.

Bandingkan kitab Mazmur pasal 115 ayat 4 sampai 8. Yang kepadanya mereka mengorbankan setiap nilai, menuntut agar seluruh dunia bertekuk lutut.

Cukup sudah penyembahan diri dan uang, cukup sudah pameran kekuasaan. Cukup sudah perang. Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ahli Toksinologi Ungkap Dokter Icha Berulang

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:08 WIB
X