Aku tidak pernah benar-benar percaya bahwa suara bisa mati. Ia hanya berpindah tempat—kadang ke batang pohon, kadang ke rongga dada, kadang ke ruang yang kita kira telah kita tutup rapat-rapat, seperti batu yang digulingkan ke mulut liang.
Malam itu, tonggeret berbunyi terlalu dekat.
Aku duduk di beranda rumah kayu peninggalan ayah, menatap cawan arak yang belum sempat kuminum. Angin dari arah kebun kopi membawa bau tanah basah—bau yang selalu mengingatkanku pada sesuatu yang pernah dikebumikan, tetapi diam-diam terus hidup di bawah permukaan.
Aku tidak menunggumu.
Setidaknya, itulah yang selalu kuucapkan, seperti doa yang kehilangan iman.
Suara tonggeret itu seperti retakan pada waktu. Mula-mula lirih, lalu mengeras, lalu tiba-tiba terasa berasal dari dalam diriku sendiri—seperti seruan yang tidak bisa lagi dibendung oleh tubuh.
Aku menoleh ke arah cawan arak di meja. Permukaannya bergetar, seperti napas yang tertahan di ambang pengakuan.
Aku mendekat.
Di dalam cawan itu, seekor tonggeret kecil terombang-ambing. Sayapnya berkilau seperti cahaya yang lolos dari kegelapan. Ia tidak tenggelam, tidak juga benar-benar hidup—seperti sesuatu yang telah melewati kematian, tetapi belum kembali sepenuhnya.
Aku berbisik, “Kau tersesat.”
Atau mungkin aku sedang berbicara kepada diriku sendiri—yang terlalu lama tinggal di antara kehilangan dan penyangkalan.
Aku mengingat, kau pernah berkata bahwa setiap tonggeret menyimpan musimnya sendiri. Bahwa ia bernyanyi bukan karena bahagia, melainkan karena tidak punya cara lain untuk bangkit dari sunyi.
Aku tidak percaya waktu itu.
Aku lebih percaya pada yang kasatmata: jemari lentikmu, tawa kecilmu, dan janji-janji yang kita ucapkan seolah-olah tidak akan pernah dikhianati oleh waktu.
Namun kini, di dalam cawan arakku, seekor tonggeret bergetar seperti rahasia yang ingin keluar dari makamnya.
Aku mengangkat cawan itu. Arak berwarna tembaga, seperti darah yang telah lama mengering dalam ingatan. Ketika bibirku hampir menyentuhnya, tonggeret itu berhenti bergerak.
Sunyi turun.
Seperti dunia yang berhenti sejenak sebelum fajar.
Artikel Terkait
Tantangan Identitas dalam Film ‘Gunung Emas Almayer’ Adaptasi Karya Sastra dari Novelis Polandia Joseph Conrad
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo