Bukan lagi sekadar kenangan.
Melainkan sesuatu yang telah kembali.
Aku tidak tahu apakah itu kau.
Atau diriku yang dulu pernah hilang.
Aku mengangkat cawan kosong itu sekali lagi, seperti seseorang yang mengangkat harapan dari reruntuhan, lalu berbisik, “Jika kau hidup, jangan bersembunyi terlalu lama.”
Malam tidak menjawab.
Namun suara tonggeret itu—atau mungkin sesuatu yang telah melewati kematian—terus bernyanyi di dadaku.
Pelan.
Setia.
Seperti kehidupan yang tak bisa lagi ditahan oleh kubur. ***
Bumi Senentang, 2026
* Penulis juga dikenal dengan nama pena puisipenyair_saioe75
Artikel Terkait
Tantangan Identitas dalam Film ‘Gunung Emas Almayer’ Adaptasi Karya Sastra dari Novelis Polandia Joseph Conrad
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo