Yang Tinggal, Yang Masih Berjejak

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 12 April 2026 | 18:49 WIB
Foto ilustrasi. (pexels.com @Алина Хисматулина)
Foto ilustrasi. (pexels.com @Алина Хисматулина)

Puisi: Willy Wedhanta

Di reruntuhan waktu
aku menemukan serpihan namamu—
seperti ukiran samar di batu yang terus dibasuh hujan,
tak terbaca, namun tak kunjung hambus.

Kau adalah jejak yang tak purna berakhir,
seperti kaki-kaki yang berjalan di atas air
lalu lenyap sebelum sempat kupahami mukjizatnya.

Kau berjejak dalam ingatan yang retak,
dalam doa-doa yang tak lagi berani kusebutkan,
sebab setiap amin terasa seperti paku
yang mengetuk sunyi ke dalam dada.

Ada taman yang pernah kita jaga bersama,
namun kini ditumbuhi bayang-bayang sendiri,
ular-ular kecil berbisik lirih:
“Bukankah cinta memang diciptakan untuk jatuh?”

Maka, keyakinan yang dahulu percaya pada terang,
kini menyalakan lilin dari sisa-sisa luka,
membiarkan nyalanya gemetar
di antara angin kenangan yang tak kunjung reda.

Kau telah pergi seperti senja yang menolak kembali,
meninggalkan langit dengan warna luka
yang tak pernah menjadi malam,
juga tak pernah menjadi pagi.

Aku susuri sisa jejakmu dalam kelam,
seperti seorang pengembara yang kehilangan arah
di padang yang tak punya kompas,
kecuali detak yang terus menyeru namamu.

Begitulah,
aku belajar membiarkan tikas itu tetap menjadi jejak—
bukan jalan pulang,
bukan pula janji yang harus ditepati.

Sebab cinta yang tak selesai
kadang adalah kitab yang sengaja dibiarkan terbuka,
agar kita bisa membaca kehilangan
sebagai bagian dari keselamatan yang tak harus kita pahami. ***

* Penulis juga dikenal dengan nama pena puisipenyair_saioe75

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X