Pengamat Tegas: BCA Jadi Penikmat Terbesar BLBI, Publik Berhak Tahu Fakta Sebenarnya

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 15:19 WIB
Pengamat Pasar Modal Fauzan Luthsa, begini katanya tentang bailout BCA.
Pengamat Pasar Modal Fauzan Luthsa, begini katanya tentang bailout BCA.

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Polemik soal bailout dan penjualan 51 persen saham Bank Central Asia (BCA) di era krisis moneter 1997–1998 kembali mencuat.

Sejumlah pihak menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar wacana usang, melainkan bagian dari tuntutan transparansi atas ratusan triliun dana publik yang digunakan untuk menyelamatkan perbankan.

Baca Juga: Baru Mau Coba? Begini Cara Investasi Crypto untuk Pemula Biar Aman dan Cuan

Pengamat pasar modal Fauzan Luthsa menilai, audit dan keterbukaan data terkait bailout BCA justru penting dilakukan.

Menurutnya, hal itu bukan ancaman bagi stabilitas perbankan, melainkan cara untuk memperkuat legitimasi negara di mata masyarakat.

“Kalau Korea Selatan bisa melakukannya setelah krisis 1997 dengan mendirikan KAMCO, melakukan audit total, bahkan meninjau ulang penjualan bank ke investor asing, Indonesia seharusnya bisa juga. Yang dibutuhkan hanya kemauan politik,” ujarnya.

Fauzan menyoroti perbedaan besar antara penanganan krisis di Indonesia dan Korea Selatan.

Jika Korsel sukses memulihkan kepercayaan publik lewat transparansi, Indonesia justru meninggalkan “warisan” BLBI dan obligasi rekap yang hingga kini masih membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga: Spotify Tambah Fitur Chat DM, Bikin Kirim Musik dan Obrolan Jadi Lebih Mudah

“Obligasi rekap BLBI kepada bank-bank besar masih terus dibayar negara hingga Rp70 triliun per tahun. Dan BCA adalah penerima manfaat terbesar dari skema tersebut,” jelasnya.

Karena itu, menurut Fauzan, wacana evaluasi ulang terhadap bailout dan penjualan saham BCA bukanlah ide sesat.

Justru langkah ini bisa menjadi momentum penting untuk menguji akuntabilitas negara dalam mengelola dana publik di masa krisis.

“Kalau rakyat tiap tahun harus menanggung pembayaran obligasi, sementara dividen jumbo terus mengalir ke segelintir pemilik modal, maka wajar jika publik mempertanyakan aspek keadilannya,” tegasnya.

Baca Juga: Kenapa Blind Box Disukai? Ini Alasan Psikologis di Balik Tren Kotak Misteri

Fauzan juga mengkritisi alasan pemerintah yang kerap menggunakan stabilitas pasar sebagai tameng.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X