Doom Spending, Mengapa Gen Z Sengaja Boros saat Stres dan Cara Ngeremnya Tanpa Siksaan

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 29 Mei 2026 | 13:05 WIB
Capek seharian bekerja kamu scroll e-commerce untuk melihat barang yang akan kamu beli. Kenali dulu bahaya-nya.  (Pexels @Nataliya Vaitkevich)
Capek seharian bekerja kamu scroll e-commerce untuk melihat barang yang akan kamu beli. Kenali dulu bahaya-nya. (Pexels @Nataliya Vaitkevich)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Pernah nggak sih, habis seharian pusing kerja atau stres kuliah, tiba-tiba tangan gatal buka aplikasi e-commerce?

Tahu-tahu, barang elektronik yang nggak butuh-butuh amat atau baju aesthetic baru udah masuk keranjang dan di-checkout.

Baca Juga: Gak Melulu Bisnis Kopi, 4 Lini Usaha Kreatif di Pontianak yang Lagi Ramai ‘Dikuliti# Anak Muda

Pas akhir bulan, giliran saldo ATM yang bikin stres.

Kalau kamu relate, selamat, kamu baru saja terjebak fenomena yang namanya Doom Spending.
 
Apa Itu Doom Spending?
 
Doom spending adalah perilaku belanja impulsif untuk menghibur diri demi mendapatkan kebahagiaan instan (instant dopamine hit) saat menghadapi stres, kecemasan, atau masa depan yang terasa tidak pasti.
 
Bagi Gen Z, tren ini makin parah karena gempuran algoritma media sosial.
 
Tiap buka HP, isinya racun belanja, konten haul, dan kalimat pembenaran seperti: “Kerja keras tiap hari masa nggak boleh self-reward?”
 
 
Akhirnya, belanja bukan lagi karena butuh barangnya, tapi butuh sensasi "senang" saat membelinya.
 
Mengapa Ini Berbahaya?
 
Nggak ada yang melarang kamu menikmati hasil jerih payah sendiri.
 
Masalahnya, kebahagiaan dari doom spending itu cuma bertahan beberapa jam atau hari.
 
Begitu barangnya sampai dan kesenangan sesaat itu hilang, rasa cemasnya balik lagi—ditambah bonus penyesalan karena uang tabungan berkurang.
 
Ini adalah lingkaran setan keuangan yang wajib diputus.
 
 
Trik Cerdas Ngerem Doom Spending (Anti-Siksaan)
Daripada pakai cara ekstrem yang bikin stres seperti hapus semua aplikasi belanja, coba pakai 3 trik psikologis yang lebih ramah mental ini:
 
1. Aturan 48 Jam: Kalau lihat barang lucu, jangan langsung bayar.
 
Masukin keranjang dulu, lalu tutup aplikasinya.
 
Tunggu sampai 2 hari. Kalau setelah 48 jam kamu masih kepikiran dan merasa butuh, silakan beli.
 
Faktanya, 80% barang akan kamu lupakan setelah lewat dua hari.
 
2. Pisahkan Rekening "Uang Nakal": Jangan gabungkan uang kosan/kuliah dengan uang jajan.
 
Buat satu rekening digital khusus (sekarang banyak bank digital gratis biaya admin) yang isinya murni untuk self-reward.
 
Kalau saldo di rekening ini habis, artinya jatah belanja kamu bulan itu sudah selesai. No debat.
 
3. Cari Dopamin Alternatif yang Gratis: Stres butuh pelampiasan, tapi nggak harus pakai uang.
 
Coba alihkan dengan dengerin musik favorit, olahraga, jalan-jalan sore di taman kota, atau maraton serial film.
 
Efek tenangnya sama, tapi saldo tabunganmu tetap aman.
 
Self-reward itu boleh banget, tapi jangan sampai bikin kamu menderita di masa depan.
 
Yuk, mulai kendalikan keranjang belanjaanmu dari sekarang! ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X