Paylater dan FOMO, Jebakan Finansial yang Bikin Gen Z Pontianak Sulit Punya Tabungan Rp10 Juta Pertama

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Jumat, 29 Mei 2026 | 08:05 WIB
PayLater dan FOMO satu di antara penyebab keuangan kamu seret. Hindari dan mulailah investasi digital saat ini juga. (Pexels @Nataliya Vaitkevich)
PayLater dan FOMO satu di antara penyebab keuangan kamu seret. Hindari dan mulailah investasi digital saat ini juga. (Pexels @Nataliya Vaitkevich)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Siapa yang di sini tiap kali ada notifikasi tanggal kembar di e-commerce, tangannya langsung gatal buat checkout?

Atau pas lagi nongkrong bareng sirkel di kafe hits, ngerasa harus beli baju baru biar gak dibilang kurang update?

Baca Juga: Berapa Denda Traveloka Paylater Jika Telat Bayar ? Harus Tepat Waktu, Ada Konsekuensi Terlambat Bayar Loh Sob

Perasaan takut ketinggalan tren ini akrab disebut FOMO (Fear of Missing Out).

Gawatnya, di era digital sekarang, sifat FOMO ini difasilitasi dengan sangat instan oleh fitur Paylater.

Tinggal klik "Beli Sekarang, Bayar Nanti," barang incaran langsung dikirim ke alamat rumah atau kosanmu di Pontianak.

Tapi sadar gak, kemudahan ini sering kali jadi jebakan finansial utama yang bikin saldo rekeningmu stagnan dan bikin target punya tabungan Rp10 juta pertama cuma jadi mitos belaka?

Baca Juga: Cara Daftar OVO Paylater Online di HP Lewat Aplikasi OVO dan Tokopedia

Anatomi Jebakan: "Cuma Rp50 Ribu Kok Per Bulan"

Bahaya terbesar dari paylater bukanlah nominal besarnya, melainkan ilusi cicilan kecilnya.

Kamu beli sepatu baru, cicilannya Rp50 ribu per bulan.

Besoknya beli skincare, cicilannya Rp40 ribu per bulan.

Lusa pesan makanan online, cicilannya Rp30 ribu per bulan.

Sistem otak kita cenderung meremehkan angka-angka kecil tersebut. Begitu tagihan akumulatif keluar di awal bulan berikutnya, kamu kaget karena totalnya sudah menembus angka Rp1,5 juta—hampir menghabiskan setengah dari kuota gaji UMK Pontianak kamu!

Alhasil, uang yang harusnya bisa dialokasikan masuk ke tabungan atau investasi justru habis total hanya untuk membayar utang konsumtif masa lalu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X