Buntut Panjang Kasus Timothy Anugerah, DPR Turun Tangan Desak Satgas Kekerasan Kampus Diaktifkan

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 20:42 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait kasus perundungan yang membayangi peristiwa kematian Timothy Anugerah di Universitas Udayana.  (Dok. X.com/@aska)
Menyoroti fakta terkini terkait kasus perundungan yang membayangi peristiwa kematian Timothy Anugerah di Universitas Udayana. (Dok. X.com/@aska)

PONTIANAKGLOBE.COM, DENPASAR -- Kasus kematian mahasiswa Universitas Udayana (UNUD) Bali, Timothy Anugerah Saputra (22), terus menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya sempat disebut sebagai insiden bunuh diri, kini kasus tersebut memasuki babak baru dengan munculnya dugaan kuat adanya perundungan sebelum korban meninggal dunia.

Keluarga yang awalnya memilih diam kini resmi menempuh jalur hukum. Kepolisian Resor Kota Denpasar pun membuka penyelidikan penuh untuk mengungkap penyebab sebenarnya di balik tragedi yang terjadi pada Rabu, (15/10/2025).

Baca Juga: Rainbow Slide Ketapang Ambruk, Tambah Daftar Kelam Wahana Anak yang Rawan Kecelakaan

Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, menegaskan pihaknya akan menyelidiki semua kemungkinan, termasuk indikasi kekerasan atau unsur lain di balik kematian Timothy.

“Polisi tetap melakukan penyelidikan untuk menemukan titik terang apakah korban memang bunuh diri atau ada unsur lain. Pendalaman masih dilakukan oleh Polsek Denpasar Barat,” ujar Sukadi, Minggu, (19/10/2025).

Meski keluarga sempat menyatakan ikhlas, Sukadi menegaskan penyelidikan tetap dijalankan demi kepastian hukum.

“Awalnya pihak keluarga tidak ingin melapor, namun penyelidikan tetap dilakukan untuk mencari kebenaran,” tambahnya.

Laporan resmi dari ayah korban, Lukas Triana Putra, yang diajukan pada Sabtu, (18/10/2025), menjadi dasar kuat dimulainya penyidikan ulang. Lukas mengaku ingin mengetahui kebenaran atas peristiwa yang disebutnya penuh kejanggalan.

“Ingin mencari kebenaran karena berita yang kami terima simpang siur. Oleh sebab itu saya serahkan kepada pihak kepolisian,” ujar Lukas di Polresta Denpasar.

Reaksi atas kasus ini kini datang dari berbagai pihak. Dunia pendidikan, parlemen, hingga rumah sakit tempat sejumlah mahasiswa pelaku koas turut mengambil langkah tegas.

Plt Direktur Utama RSUP Prof Ngoerah, I Wayan Sudana, memastikan mahasiswa kedokteran UNUD yang diduga terlibat perundungan telah dikeluarkan dari program koas di rumah sakit tersebut.

“RS Ngoerah mengambil tindakan tegas untuk mengembalikan peserta didik ke universitas agar dilakukan pendalaman dan investigasi,” kata Sudana.

Baca Juga: Janji Manis Menkeu vs Fakta Pahit Pengangguran Gen Z, Siapa yang Salah Hitung?

Ia menegaskan sikap tidak beretika para mahasiswa itu mencoreng nama lembaga pendidikan dan dunia medis. “Kami tegaskan, mereka peserta didik, bukan karyawan rumah sakit. Jadi tindakan mereka tidak mewakili RS Ngoerah,” imbuhnya.

Sorotan juga datang dari Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, yang mendesak seluruh perguruan tinggi mengaktifkan kembali Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Kampus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X