Catatan Terakhir Timothy Anugerah, Mimpi Sederhana yang Tak Pernah Selesai

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 22:06 WIB
Menyoroti kepergian Mahasiswa Udayana, Timothy Anugerah dalam bayang-bayang kasus perundungan.  (Dok. X.com / @Meta80ki - @Agenttt)
Menyoroti kepergian Mahasiswa Udayana, Timothy Anugerah dalam bayang-bayang kasus perundungan. (Dok. X.com / @Meta80ki - @Agenttt)

PONTIANAKGLOBE.COM, DENPASAR -- Kematian mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, Timothy Anugerah Saputra (22), masih menyisakan duka mendalam. Mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai empat gedung kampusnya pada Rabu, (15/10/2025

Tragedi ini menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan bahwa Timothy semasa hidupnya kerap menjadi korban perundungan.

Baca Juga: Ribuan Perusahaan Siap Terima Peserta Magang, Pemerintah Gelontorkan Triliunan Rupiah

Ironisnya, setelah kepergiannya, beredar percakapan sejumlah mahasiswa di media sosial yang menjadikan kematiannya sebagai bahan candaan. Unggahan tersebut memicu kemarahan publik dan menggugah empati mahasiswa lainnya di kampus Unud.

Sebagai bentuk penghormatan, mahasiswa dan alumni FISIP Unud menggelar renungan malam pada Jumat, (17/10/2025). Dalam suasana hening di bawah cahaya lilin, mereka menundukkan kepala di titik tempat Timothy jatuh. “Rest in Peace, Timothy Anugerah Saputra,” demikian tulisan yang terpampang dalam video yang dibagikan akun @sualunstrat di Instagram. Momen itu menjadi simbol duka dan refleksi bagi sivitas akademika Unud.

Di tengah keheningan duka, beredar pula secarik tulisan yang diduga berasal dari catatan pribadi Timothy. Dalam catatan itu, ia menulis rencana kuliah dari semester satu hingga delapan—penuh harapan sederhana tentang belajar, mencari teman, mengikuti organisasi, hingga lulus tepat waktu.

“Semester 3: Mencari teman, mengikuti organisasi,” tulisnya di salah satu bagian. Di akhir, ia menulis impiannya untuk menyelesaikan tugas akhir dan segera bekerja setelah lulus.

Tulisan itu menjadi potret betapa sederhana dan tulusnya mimpi Timothy, seorang mahasiswa yang hanya ingin menempuh perjalanan kuliah dengan damai dan memiliki teman sejati. Namun, takdir berkata lain.

Baca Juga: BBM Campur Etanol Jadi Keniscayaan, tapi Bisakah Indonesia Hindari Risiko Mesin?

Duka semakin terasa ketika video ibunda Timothy tersebar di media sosial. Dalam unggahan akun @pembasmi.kehaluan.reall, sang ibu terlihat menahan air mata saat memberi penghormatan terakhir untuk putranya.

“Saat dia masih kecil, dia pernah menatap saya dengan tulus dan berterima kasih atas makanan yang saya buat,” ucapnya lirih, diiringi pelukan keluarga yang mencoba menenangkan.

Kini, kisah Timothy Anugerah bukan hanya tentang kehilangan seorang mahasiswa, tetapi juga cermin getir tentang pentingnya empati, keamanan psikologis, dan kepedulian di lingkungan kampus.

Tragedi ini meninggalkan luka, namun juga menjadi pengingat agar dunia pendidikan tak lagi menjadi tempat di mana kebaikan disia-siakan.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X