Fluktuasi cuaca kini bukan sekadar anomali musiman, tetapi mulai menjadi pola yang lebih sering, lebih panjang, dan lebih ekstrem.
Dalam kondisi seperti ini, ketahanan pangan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada peningkatan produksi beras.
Diversifikasi pangan berbasis agroekologi—mulai dari sorgum, jagung, sagu, hingga singkong—perlu dipercepat sesuai karakter wilayah masing-masing.
Tanpa langkah adaptasi yang lebih berani dan komitmen menjaga hidrologi gambut, terutama di Kalimantan Barat, ketahanan pangan nasional akan terus berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian iklim. ***