PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menjadi perhatian serius Gereja Katolik dalam menghadapi perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan oleh Agustinus Tri Budi Utomo usai Misa Pembukaan PKSN yang digelar di Katedral Santo Yoseph Pontianak dan dilanjutkan dengan kegiatan di Gedung Pasifikus BOS Pontianak, Rabu, 27 Mei 2026.
Dalam wawancara setelah misa, Uskup Agustinus Tri Budi Utomo menegaskan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat dengan hadirnya berbagai teknologi baru yang memengaruhi kehidupan manusia.
Menurutnya, Gereja telah lama mengikuti perkembangan teknologi komunikasi, mulai dari radio, televisi, hingga film, bahkan sejak tahun 1967.
“Gereja tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga melakukan refleksi, memberikan penilaian, mengkritisi, serta melihat dampaknya bagi manusia,” ujarnya.
Dia menilai tantangan terbesar saat ini bukan sekadar kemajuan teknologinya, melainkan bagaimana manusia bersikap dewasa dalam menghadapi perkembangan tersebut.
Teknologi, menurutnya, diciptakan untuk membantu kehidupan manusia, namun manusia juga perlu menjaga nilai-nilai kemanusiaannya agar tidak hilang di tengah arus digitalisasi.
Dalam konteks itulah tema komunikasi sosial tahun ini, “Rises Voices and Raises Voices”, dinilai sangat relevan.
Tema tersebut menekankan pentingnya menjaga suara dan wajah manusia agar manusia tetap menjadi pribadi yang utuh di tengah perkembangan teknologi baru.
Uskup Agustinus Tri menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang semakin terbiasa melihat segala sesuatu secara singkat melalui media digital.
Dia menggambarkan bagaimana kebiasaan scrolling media sosial secara terus-menerus, terutama di kalangan generasi muda, perlahan memengaruhi cara manusia membangun relasi dengan sesama.
“Perjumpaan sering kali hanya berlangsung singkat tanpa kedalaman komunikasi. Akibatnya, manusia bisa kehilangan makna perjumpaan yang sesungguhnya,” katanya.
Menurutnya, manusia perlu kembali belajar membangun perjumpaan yang nyata dengan sesama, bukan hanya melihat secara fisik, tetapi juga memahami orang lain melalui “bahasa hati”.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya menyampaikan suara yang otentik dan asli di tengah perkembangan teknologi digital yang memungkinkan berbagai bentuk manipulasi melalui penyuntingan maupun rekayasa visual.
Artikel Terkait
Artis Lisa A. Riyanto Bagikan 'Resep' Harmonis Keluarga di Tengah Gempuran AI
Mimpi Punya Rumah Umur 30 Tahun? Ini Strategi Racik Portofolio Reksa Dana dari Sekarang
Mengenal Istilah 'Dividen Hunter' TRik dan Cara Dapat Duit Pasif dari Saham Raksasa RI
Lahan di Kubu Raya Makin Melejit, Mending Nabung Beli Tanah Kavling atau Saham Properti?
Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi
Menjaga Wajah dan Suara Manusia di Era Digital