Dia menatapku. Wajah-Nya begitu teduh, tanpa amarah sedikit pun. Ia hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Itulah yang membuat dadaku terasa sesak. Pelupuk mataku terasa hangat, dan tak kuasa menahan air mata yang luruh.
“Aku…” suaraku terdengar serak.
Aku ingin menjelaskan semuanya.
Tentang malam itu. Tentang ketakutanku. Tentang penyangkalanku.
Tapi semuanya itu terasa kecil di hadapan-Nya.
Dia tidak meminta penjelasan apa-apa. Dia hanya ada. Dan kehadiran-Nya jauh lebih menakutkan dari semua yang hendak kuucapkan. Di belakangku, kawan-kawan seperahu makan dalam diam. Tidak seorang pun berani menyebut nama-Nya.
Memang tidak perlu. Aku menunduk. Air mataku tertumpah di atas pasir. Menghilang.
“Aku mengenal-Mu,” bisikku dengan lirik.
Sebuah pengakuan yang sungguh terlambat. Tetapi membuatku begitu lega. Aku tak lagi menyangkal-Nya.
Dia tetap diam. Tegak di hadapanku. Tapi aku merasa dibebaskan. Bukan karena ingatan yang memilukan itu kusingkirkan, tapi karena aku masih diberi kesempatan untuk melangkah lagi. Tanpa terbebani.
Aku mengangkat kepalaku perlahan.
Pagi sudah penuh seutuhnya.
Perahu kami masih terombang-ambing dalam air.
Jala yang basah belum dibersihkan.
Dan ikan-ikan yang memenuhi perahu itu diam. Tak bergerak.
Artikel Terkait
Contoh Puisi Memperingati Hari Guru Nasional
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, agar Perayaan Imlek 2024 Tahun Naga Kayu Semakin Semarak
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, Sederhana Namun Penuh Makna dan Nilai Persahabatan
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Lomba Tarung Puisi Jelang HUT RI Ke-80
Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi