Perahu, Air Mata, dan Pengakuan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 8 Mei 2026 | 12:06 WIB
Foto ilustrasi dibuat dengan AI.
Foto ilustrasi dibuat dengan AI.

Jala itu tampak penuh ikan. Berdesakan seperti rahasia yang tersingkap ke permukaan.

Air memercik ke wajahku. Dingin, seolah menggurat sesuatu di kulitku. Tidak seorang pun yang bicara. Hanya suara air yang terus mendesak di lambung perahu. Ketika itu, pikiranku bergejolak. Sepanjang malam bukan jala kami yang salah, justru kami yang tidak lagi tahu harus ke mana melemparnya.

***

“Dia… “ bisik seseorang.

Aku menoleh ke pantai.

Sosok itu masih di sana.

Dadaku terasa sesak.

Yang lain mulai bergerak. Ada yang meloncat ke dalam air, berenang, mendorong perahu kecil. Akutetap di buritan, memagang tali yang kini tak lagi tegang.

“Ayo!” mereka memanggil.

Persendianku terasa lemas.

Dia masih menunggu.

Sepertinya Dia menungguku.

Aku menanggalkan pakaianku. Dan bergegas meloncat ke dalam air. Rasa dingin langsung menyentuh kakiku. Aku menggigit bibir sambil berjalan perlahan. Permukaan air naik sampai ke lututku, lalu pinggangku. Setengah perjalanan mendekati pantai, langkahku terhenti.

Di pantai ku lihat api unggun menyala…

“Kau salah satu dari mereka?”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X