Mantan Pengikut Bongkar Borok Kiai Pati, Dari Doktrin hingga Dugaan Pelecehan

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 3 Mei 2026 | 22:03 WIB
Massa datangi Ponpes di Pati usai oknum kiai diduga lakukan pencabulan pada santriwatinya. (Dok. Instagram/ekosuswanto_mbahto)
Massa datangi Ponpes di Pati usai oknum kiai diduga lakukan pencabulan pada santriwatinya. (Dok. Instagram/ekosuswanto_mbahto)

PONTIANAKGLOBE.COM, PATI -- Kasus dugaan pencabulan yang melibatkan seorang oknum kiai di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memicu kemarahan publik.

Oknum pengasuh ponpes tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian setelah adanya laporan dari para korban. Jumlah korban pun disebut-sebut tidak sedikit, bahkan beredar kabar mencapai hingga 50 santriwati.

Baca Juga: Camping Kreatif Buton Tengah 2026: Healing, Networking, dan Bisnis Jadi Satu

Kemarahan warga memuncak hingga terjadi aksi unjuk rasa pada Sabtu (2/5/2026). Massa mendatangi lokasi pondok pesantren serta rumah pelaku, menuntut aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus tersebut secara transparan dan memberikan hukuman setimpal.

Dalam aksi tersebut, seorang mantan pengikut pelaku bernama Shofi turut angkat bicara. Ia mengungkap pengalaman panjangnya selama bergabung dengan pelaku sejak 2008 hingga 2018, yang menurutnya penuh dengan tekanan dan kerugian.

“Menjadi korban dalam harta benda. Pada 2008 itu kerja gotong royong siang dan malam hari, nggak dibayar. Malah kalau punya uang, disetorkan sama dia,” kata Shofi kepada awak media pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Ia juga mengaku pernah diminta berbohong kepada orang tuanya terkait tempat mondok agar uang kiriman bisa dialihkan kepada pelaku.

“2008 itu saya disuruh ngaku sama orang tua saya kalau mondok di tempat lain biar uang dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini,” imbuhnya.

Shofi menyebut kerugian yang dialaminya sulit dihitung karena berlangsung bertahun-tahun, baik dari segi materi maupun tenaga.

“Tak terhitung mas. Tenaga aja pas bangun musala itu siang dan malam terus-terusan. Itu banyak yang seperti itu,” sambunnya.

Bahkan, ia mengaku pernah menjual tanah pada 2009 dan menyerahkan uang sebesar Rp9 juta kepada pelaku.

Lebih jauh, Shofi juga mengungkap adanya doktrin yang membuat para pengikut menuruti segala perintah pelaku. Ia mengaku awalnya percaya karena menganggap pelaku sebagai sosok yang memiliki kemampuan luar biasa.

“Saya anggap dia itu Wali Allah, dia tau semuanya. Mbah saya akan meninggal sampai jamnya dia tahu. Adik saya akan melahirkan jam 11 malam suruh telepon, dia ngasih tau jam dan nama,” jelasnya.

Selain itu, ia membeberkan dugaan perilaku menyimpang pelaku terhadap para santri.

“Pelaku menyimpang ya paling salaman itu tadi. Istri saya juga begitu, dicium pipi kanan-kiri, jidat, dan bibir. Banyak santri yang dibegitukan, hampir semuanya,” terangnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X