Mualem Ungkap Pengungsi Aceh Meninggal karena Kelaparan, Bukan Banjir

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 7 Desember 2025 | 06:52 WIB
Menyoroti penuturan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf terkait kondisi terkini para pengungsi yang terdampak banjir bandang.  (Dok. Instagram.com/@muzakirmanaf1964)
Menyoroti penuturan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf terkait kondisi terkini para pengungsi yang terdampak banjir bandang. (Dok. Instagram.com/@muzakirmanaf1964)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH -- Kesedihan masih menyelimuti para pengungsi di berbagai wilayah Aceh setelah banjir bandang dan longsor menerjang pada akhir November 2025. Data terbaru BNPB per Sabtu, 6 Desember 2025 pukul 11.00 WIB mencatat 345 orang meninggal dunia, 174 hilang, dan lebih dari 3.500 warga mengalami luka-luka.

Bencana ini juga merusak lebih dari 115 ribu bangunan, termasuk 704 fasilitas umum, 258 fasilitas pendidikan, serta 312 jembatan di 18 kabupaten terdampak.

Baca Juga: Banjir Meluas, Bahlil akan Telisik Peran Izin Tambang Lama yang Diterbitkan Pemda

Melihat kondisi tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi para pengungsi, terutama di wilayah yang masih terisolir.

Secara terpisah, Mualem menyebut sejumlah korban meninggal bukan akibat banjir langsung, melainkan karena kelaparan akibat minimnya distribusi logistik.

Ia menilai keterlambatan penyaluran bantuan ke kawasan terpencil telah menyebabkan kondisi pengungsi semakin memburuk.

“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan, mereka meninggal bukan karena banjir tapi karena kelaparan,” ujar Mualem pada Jumat, 5 Desember 2025.

Saat meninjau sejumlah daerah terdampak, Mualem mendapati kondisi di lapangan sangat memprihatinkan.

Ia menekankan bahwa daerah pedalaman Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, hingga Aceh Tengah merupakan kawasan yang paling membutuhkan bantuan segera. Sejumlah desa di wilayah tersebut bahkan belum tersentuh logistik sama sekali.

Mualem meminta agar distribusi bantuan tidak menumpuk di satu titik saja, karena kapasitas logistik sebenarnya cukup jika dibagikan secara merata.

Ia menyebut sebagian besar pengungsi membutuhkan kebutuhan dasar seperti sembako, terutama di desa pedalaman yang belum terjamah bantuan.

Menurut laporan yang diterimanya, wilayah terpencil seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, hingga Gayo Lues hanya dapat dijangkau melalui udara. Karena itu, pemerintah Aceh mendesak penambahan armada helikopter dari pemerintah pusat.

Ia menyatakan bahwa helikopter yang tersedia saat ini hanya mampu mengangkut 1–2 ton bantuan, jumlah yang sangat kurang untuk menjangkau ribuan pengungsi.

“Kita perlu Hercules yang bisa membawa 5 sampai 6 ton agar suplai ke daerah terpencil lebih cepat,” kata Mualem.

Setelah sepekan memantau kondisi di lapangan, Mualem menilai banyak desa yang jauh dari pusat kabupaten belum menerima bantuan sama sekali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X