Fenomena September Effect Sudah Terbukti Dalam 100 Tahun, Mengapa Pasar Saham Sering Melemah di Bulan Ini?

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 5 September 2025 | 16:53 WIB
Ilustrasi fenomena september effect yang dinilai memiliki rekor ekonomi rata-rata buruk di pasar global.  (Freepik)
Ilustrasi fenomena september effect yang dinilai memiliki rekor ekonomi rata-rata buruk di pasar global. (Freepik)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Sebagian pakar ekonomi di dunia sering menilai bulan September disebut sebagai masa yang kurang bersahabat bagi pasar saham global.

Istilah ini dikenal dengan nama "September Effect", yakni fenomena yang menunjukkan kinerja pasar cenderung melemah dibanding bulan yang lain.

Baca Juga: Seskab Teddy Beberkan Hasil Ratas, Prabowo Tekankan Transformasi Ekonomi Indonesia, Ini Bocoran Lengkap-nya

Sejarah ekonomi global mencatat, selama hampir satu abad, rata-rata indeks saham di Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan ketika memasuki September.

“September telah lama menjadi bulan dengan kinerja terburuk di pasar saham,” tulis Investopedia dalam laporannya yang dikutip pada Jumat, 5 September 2025.

Kendati demikian, penting dicatat tren ini tidak terjadi setiap tahun.

Ada kalanya September justru mencatat kinerja positif dan menjadi bulan yang menguntungkan bagi investor.

Hal ini membuat September Effect lebih dipandang sebagai anomali statistik ketimbang kepastian di pasar global.

Data dari indeks S&P 500 antara tahun 1928 hingga 2023 menunjukkan rata-rata penurunan pada September.

Meski begitu, jika dilihat lebih rinci, median hasilnya justru menunjukkan angka positif dalam beberapa tahun terakhir sejak tahun 2025.

“Jika investor bertaruh melawan September selama 100 tahun terakhir, mereka memang untung. Namun, jika hanya melihat sejak 2014, hasilnya justru rugi.” demikian menurut laporan Investopedia.

Baca Juga: Strategi Customer Zero, Cara CIO Ubah Teknologi Jadi Nilai Bisnis Nyata

Artinya, periode analisis sangat memengaruhi kesimpulan. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini.

“Banyak yang percaya, setelah libur musim panas, investor kembali di September untuk mengamankan keuntungan, atau bahkan menjual saham demi kebutuhan biaya sekolah anak,” tulis Investopedia.

Selain itu, September bertepatan dengan penutupan kuartal ketiga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X