Kebaya Menari di Vatikan! Pesona Budaya Indonesia Pukau Dunia Lewat Panggung KBRI Takhta Suci

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 29 Oktober 2025 | 09:05 WIB
Anggun dan sarat makna saat Komunitas Kebaya Menari tampil memukau di aula KBRI Takhta Suci, Roma, membawa pesan harmoni dan persatuan budaya Indonesia. (KBRI Takhta Suci)
Anggun dan sarat makna saat Komunitas Kebaya Menari tampil memukau di aula KBRI Takhta Suci, Roma, membawa pesan harmoni dan persatuan budaya Indonesia. (KBRI Takhta Suci)

Bagi komunitas ini, kebaya bukan sekadar busana, melainkan simbol nilai luhur dan jati diri bangsa—kesederhanaan, kesabaran, keanggunan, serta penghormatan terhadap budaya.

Baca Juga: Uskup Christophorus Tri Harsono Ditunjuk Paus Leo XIV Jadi Anggota Dikasteri untuk Dialog Antaragama

“Kami ingin kebaya tidak hanya hadir di acara resmi, tapi juga dikenakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yanti.

Pemerintah sendiri telah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional untuk memperkuat upaya pelestarian busana tradisional perempuan Indonesia tersebut.

Dalam pertunjukan di KBRI Takhta Suci, para penari membawakan tiga tarian yang mewakili keberagaman agama dan budaya Nusantara:

  • Tari Legong Bapang Durga (Bali) – Representasi agama Hindu, menggambarkan ketegasan dan kasih sayang Dewi Durga, pelindung manusia dari kejahatan. Tarian klasik ini dikenal sejak 1933 dan pernah dipopulerkan oleh penari legendaris Ni Ketut Polok.

  • Tari Bedhaya Ura-ura (Jawa) – Mewakili tradisi Katolik, sarat nilai spiritual dan kesakralan. Terinspirasi dari Bedhaya Ketawang yang dahulu hanya ditampilkan dalam upacara kerajaan. Kini, tarian ini tampil lebih kontemporer namun tetap mempertahankan nuansa meditatif.

  • Tari Zatin (Sumatera) – Melambangkan nilai-nilai Islam dan semangat harmoni.

Perpaduan tiga tarian lintas budaya dan agama ini menghadirkan pesan universal tentang cinta, perdamaian, dan persatuan.

Baca Juga: Kardinal Timothy Dolan dari New York Sebut Figur Non-Partisan di Balik Terpilihnya Paus Leo XIV

“Tarian adalah bahasa universal yang bisa menyentuh hati siapa pun. Melalui gerak, musik, dan busana, kita bisa berbicara tentang Indonesia tanpa perlu banyak kata,” ujar Dubes Trias.

Pentas “Kebaya Menari” di KBRI Takhta Suci menjadi simbol diplomasi kultural Indonesia, yang menunjukkan kepada dunia bahwa keindahan dan kekuatan bangsa ini terletak pada keragamannya.

Kebaya yang menari di panggung Vatikan bukan hanya busana—tetapi narasi visual tentang toleransi, keanggunan, dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: KBRI Takhta Suci

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X