Bagi komunitas ini, kebaya bukan sekadar busana, melainkan simbol nilai luhur dan jati diri bangsa—kesederhanaan, kesabaran, keanggunan, serta penghormatan terhadap budaya.
Baca Juga: Uskup Christophorus Tri Harsono Ditunjuk Paus Leo XIV Jadi Anggota Dikasteri untuk Dialog Antaragama
“Kami ingin kebaya tidak hanya hadir di acara resmi, tapi juga dikenakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yanti.
Pemerintah sendiri telah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional untuk memperkuat upaya pelestarian busana tradisional perempuan Indonesia tersebut.
Dalam pertunjukan di KBRI Takhta Suci, para penari membawakan tiga tarian yang mewakili keberagaman agama dan budaya Nusantara:
-
Tari Legong Bapang Durga (Bali) – Representasi agama Hindu, menggambarkan ketegasan dan kasih sayang Dewi Durga, pelindung manusia dari kejahatan. Tarian klasik ini dikenal sejak 1933 dan pernah dipopulerkan oleh penari legendaris Ni Ketut Polok.
-
Tari Bedhaya Ura-ura (Jawa) – Mewakili tradisi Katolik, sarat nilai spiritual dan kesakralan. Terinspirasi dari Bedhaya Ketawang yang dahulu hanya ditampilkan dalam upacara kerajaan. Kini, tarian ini tampil lebih kontemporer namun tetap mempertahankan nuansa meditatif.
-
Tari Zatin (Sumatera) – Melambangkan nilai-nilai Islam dan semangat harmoni.
Perpaduan tiga tarian lintas budaya dan agama ini menghadirkan pesan universal tentang cinta, perdamaian, dan persatuan.
Baca Juga: Kardinal Timothy Dolan dari New York Sebut Figur Non-Partisan di Balik Terpilihnya Paus Leo XIV
“Tarian adalah bahasa universal yang bisa menyentuh hati siapa pun. Melalui gerak, musik, dan busana, kita bisa berbicara tentang Indonesia tanpa perlu banyak kata,” ujar Dubes Trias.
Pentas “Kebaya Menari” di KBRI Takhta Suci menjadi simbol diplomasi kultural Indonesia, yang menunjukkan kepada dunia bahwa keindahan dan kekuatan bangsa ini terletak pada keragamannya.
Kebaya yang menari di panggung Vatikan bukan hanya busana—tetapi narasi visual tentang toleransi, keanggunan, dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. ***
Artikel Terkait
Dubes RI Untuk Tahta Suci, Trias Kuncahyono Ungkap Arti Penting Kunjungan Paus ke Indonesia
Paus Fransiskus dalam Kondisi Kritis, Sosok Ini yang Mengendalikan Takhta Suci
75 Tahun Indonesia dan Takhta Suci, Seiring Sejalan
Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata, Pembebasan Sandera, dan Penghormatan Hukum Humaniter di Gaza
Paus Leo XIV Terima 200 WNI di Vatikan, Tegaskan Indonesia Teladan Harmoni
Kebaya Menari dari Jakarta ke Vatikan, Perempuan Lintas Iman Ini Akan Tampil di Depan Paus Fransiskus