BRI Optimistis Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global. Ternyata Ini Kiatnya

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 22 Januari 2023 | 22:17 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso. Belum lama ini Sunarso meraih penghargaan bertaraf internasional The Asian Banker CEO Leadership Achievement for Indonesia Awards. (BRI)
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso. Belum lama ini Sunarso meraih penghargaan bertaraf internasional The Asian Banker CEO Leadership Achievement for Indonesia Awards. (BRI)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- World Bank dalam laporannya yang berjudul Is a Global Recession Imminent? memprediksi kemungkinan terjadinya resesi ekonomi global pada tahun 2023.

Berkaitan dengan hal tersebut, Presiden Joko Widodo mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk optimistis menghadapi kondisi perekonomian tahun ini yang masih dengan penuh ketidakpastian.

Sebagai perusahaan BUMN yang menjadi bagian dari stabilitas perekonomian nasional, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI telah memetakan sejumlah tantangan ekonomi yang akan sangat berpengaruh pada industri perbankan di Tanah Air tahun ini.

BACA JUGA: Alumni SMA Santu Petrus Pontianak Angkatan 86 Maknai Imlek dengan Makan Malam bersama Mantan Guru

Direktur Utama BRI Sunarso menjabarkan tantangan-tantangan ekonomi tersebut. Yaitu resesi yang akan memukul ekonomi Amerika Serikat dan diperkirakan terjadi pada semester II/2023. Hal tersebut dinilai akan mengganggu laju pertumbuhan ekonomi global secara agregat.

“Kemudian (kedua) juga masih terjadi tensi geopolitik yang tinggi terutama akibat ketegangan dan perang di Rusia dan Ukraina. Juga antara China-Taiwan yang mendorong disrupsi di rantai pasok, saya kira ini juga sangat challenging,” kata Sunarso.

BACA JUGA: Lima Alasan Minum Kopi saat Perut Kosong Berbahaya. Ini Penyebab Pagi Hari Tak Tepat Konsumsi Kopi

Tantangan berikutnya adalah tekanan inflasi global yang masih tinggi dengan respon utama dari bank sentral setiap negara adalah menaikkan suku bunga.

Di Indonesia, kata Sunarso, penurunan subsidi BBM akan berdampak pada kenaikan inflasi sampai tahun ini sehingga mendorong penaikan biaya produksi, penurunan pendapatan riil masyarakat, hingga berpotensi mengurangi tabungan masyarakat di bank.

BACA JUGA: Tata Cara Puasa Rajab 2023. Ada Niat Puasa Rajab Siang Hari dan Niat Puasa Rajab Siang Hari yang Bisa Dibaca

Kemudian yang terakhir adalah kasus Covid-19 di China yang kembali meningkat.

Hal itu pasti akan mengganggu secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi secara global karena China adalah negara Super Power selain Amerika Serikat. 

Di sisi lain, dengan kondisi tersebut beberapa negara maju memiliki peluang resesi yang tinggi. Sunarso mengutip data Bloomberg yang menyebut probabilitas resesi ekonomi di China, Hongkong dan Australia mencapai 20 persen. Korea Selatan dan Jepang 25 persen, Selandia Baru 33 persen, Amerika Serikat 40 persen sedangkan Uni Eropa 50 persen. Adapun Indonesia menurutnya patut disyukuri karena probabilitasnya hanya 3 persen.

BACA JUGA: Rumah Terduga Teroris ISIS di Sleman Yogyakarta Digerebek Polisi, Dua Bom Rakitan Berhasil Diledakkan

“Alhamdulillah Indonesia peluang untuk resesi itu hanya 3 persen. Kita juga bangga bahwa Indonesia mampu mengelola ekonominya mampu mengintegrasikan dan mengkonsolidasikan secara baik. Maka saya kira ekonomi kita cukup solid dan kemudian peluang terjadinya resesi di Indonesia hanya 3 persen,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X