Minggu lalu, Fransiskus Marius Markim, seorang petani Bengkayang, mengajak saya buat menemani Kubal mengunjungi Wisma Emaus maupun Biara Providentia di Singkawang, dimana relief Via Dolorosa tersebut dipasang.
Kubal tinggal di desa Ketiat, Bengkayang, bersama isteri dan dua dari tiga anaknya.
Anak sulung, Frans Indonesianus, pernah jadi aktor film di Jakarta, kini tattoo artist, dan tinggal di Sambas.
Ini pertama kali Kubal melihat kembali karya-karyanya sesudah empat dekade.
Kubal senang bahwa karya-karyanya masih diingat orang.
Relief di Susteran
Stella Marris, seorang suster Katolik, menerima kami bertiga, masuk di halaman belakang Biara Providentia di Singkawang. Kami berjalan melihat-lihat karya-karya Kubal.
Stella Marris bilang mereka ingin relief tersebut diperbaiki.
Mereka tak tahu siapa pembuatnya.
“Dulu Suster (kepala) tahu Bapak darimana bisa buat ini?” tanya Stella kepada Kubal.
“Dari Pastor Paulus Kota,” kata Kubal.
“Itu abange, sepupu, Pastor Paulus kota,” kata Markim.
Dalam karya Via Dolorosa, Kubal juga menggambarkan para prajurit Romawi dan Yesus, dengan ornamen Dayak.